<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473</id><updated>2011-10-25T18:08:10.985+07:00</updated><category term='self-improvement'/><category term='technology'/><category term='entrepreneurship'/><category term='self-reflection'/><category term='personal'/><category term='my business'/><title type='text'>Another Bytes of ...</title><subtitle type='html'>Ini adalah Blog seorang Mohamad Habibi, berisi tentang perpaduan elemen-elemen penyusun kehidupannya, yang mungkin bisa berguna bagi orang lain.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-766905949042417930</id><published>2008-11-22T11:37:00.004+07:00</published><updated>2008-11-29T12:00:41.491+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my business'/><title type='text'>Anak Gila Berbisnis Penerbitan Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/STDMWY9IBlI/AAAAAAAAACU/us8PelIJk0U/s1600-h/HomeCollage.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 163px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/STDMWY9IBlI/AAAAAAAAACU/us8PelIJk0U/s200/HomeCollage.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273939848678868562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Pada suatu Sabtu, sambil menunggu jam gajian (membayarkan gaji mingguan karyawan saya maksudnya), saya mengirimkan email berisi judul-judul buku terbitan saya ke seorang pembaca yang me-request hal tersebut. Pas ditulis, kok ternyata ada cukup banyak juga (menurut ukuran saya lho!) judul-judul buku yang telah diterbitkan. Padahal orang yang me-request itu hanya minta judul-judul buku dengan tema hacking atau sejenisnya. Kalo pas awal-awal dulu, saat-saat judul yang diterbitkan masih sedikit,  saya bisa ingat persis judul-judulnya, jumlah halaman, nomer ISBN-nya, bahkan nama tukang sayur penulis bukunya. Yang terakhir enggak lah. Ibaratnya sambil merem-melek nikmat (nah lho...ini lagi ngapain ya?) pun saya bisa tahu persis buku-buku saya apa saja.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Sekarang, saat nulis email yang saya maksud di atas, saya harus baca daftar apa saja buku yang telah terbit. Soalnya saya sendiri agak lupa judulnya apa saja. Dengan kapasitas otak yang (harapannya) lebih dari sekedar kacang polong, tentu saya tidak bisa mengingat banyak hal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Anyway...kalo melakukan kilas balik, saya masih heran dengan keberanian saya buka bisnis penerbitan. Secara ini di Semarang, gitu lho! Kalo misal ini di Yogya, masih bisa dimaklumi. Yogya kan Kota Pelajar. Tapi ini Semarang, maaann....Semarangg !!! *menghela napas*. Sudah banyak isu yang saya dengar, bahwa Semarang ini ditakuti oleh pemasar-pemasar produk. Alias di Semarang susah jualan. Akibatnya? Tuh..sering kan kalo misalnya ada acara-acara gede, acara musik misalnya, Semarang sering dilewati. Paling dekat ya Yogya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Fakta pun berbicara bahwa  produk  intelektual seperti buku, perputarannya di Semarang tidak sedahsyat di kota lain yang lebih maju dan terbuka wawasannya. Angka-angka penjualan buku saya menyatakan kesimpulan itu.  Itu saya akui, karena saya pun juga orang asli Semarang. Lantas...mengapa terus saya yang orang Semarang, domisili di Semarang, malah berbisnis penerbitan buku? Gila apa?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Ya memang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Saya akui, saya gila, kenthir (in Javanese term), sedheng (in more crude Javanese term).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Apakah saya punya background penerbitan ? Tidak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Apakah saya kehilangan akal? Nah, ini jelas TIDAK. Mari saya jelaskan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Saya memutuskan berbisnis penerbitan karena pasar buku di Indonesia masih sangat luas. Fakta menunjukkan bahwa 50% omzet bisnis buku nasional masih berpusat di Jakarta. Oke, mulai kelihatan kan arahnya? Jadi saya memang di Semarang, tapi pasar saya kebanyakan di Jakarta dan sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Alasan kedua adalah buku dengan tema tertentu biasanya masih eksklusif. Artinya, tidak banyak judul dengan tema itu. Praktiknya, saya menerbitkan buku tema-tema IT di bawah label Neomedia. Saat ini, penerbit buku IT di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari. Paling banyak adalah buku anak-anak dan buku agama. Tobat deh itu. Ngrumpyuk, crowded banget. Jadi di sini saya mencoba membidik pasar IT yang masih cukup lowong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Alasan ketiga, margin buku itu cukup tinggi. Ndak percaya? Oke, saya beberkan ya. Kebetulan saya berbisnis di bidang percetakan juga. Dari pengalaman, kalkulasi buku sekitar 120-an halaman, oplah 1000 eksemplar, jatuhnya paling-paling sekitar Rp. 5000-an. Sekarang kalo Anda melihat buku dengan spesifikasi itu di toko buku, berapa harganya? Paling muraaaahhh....banget sekitar 20 ribuan deh. Kalo yang lebih mahal? Banyaakk....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Mengapa bisa demikian? Itu karena yang dijual adalah isi buku, bukan kertasnya. Isi buku adalah produk pengetahuan seseorang yang layak dihargai mahal. Jadi, dengan modal 5000, bisa dapat duit lagi 10.000 setelah dikurangi diskon untuk distributor/toko buku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Jadi kesimpulannya, saya mungkin gila ya berbisnis penerbitan, tapi tentu saja saya tidak segila itu hingga saya masih bisa nulis blog ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Semoga mencerahkan :)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-766905949042417930?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/766905949042417930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=766905949042417930' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/766905949042417930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/766905949042417930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/11/anak-gila-berbisnis-penerbitan-buku.html' title='Anak Gila Berbisnis Penerbitan Buku'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/STDMWY9IBlI/AAAAAAAAACU/us8PelIJk0U/s72-c/HomeCollage.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-8842249254270255890</id><published>2008-11-06T14:29:00.005+07:00</published><updated>2008-11-19T13:14:16.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my business'/><title type='text'>Through Bad Times, Through Good Times</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SSJWIwtoyhI/AAAAAAAAACM/-_VBaoEhvy0/s1600-h/man-business-problem.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 183px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SSJWIwtoyhI/AAAAAAAAACM/-_VBaoEhvy0/s200/man-business-problem.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269869222492162578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sudah lama nggak nge-blog nih, semenjak sebelum puasa hingga sekarang Syawal lewat. Banyak hal terjadi pada saat itu. Pengen juga sih mengurai kejadian-kejadian itu satu persatu. Dimulai dari sharing tentang bisnis saya ya.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;In shorter version, bisnis saya lagi masa-masa sulit (lagi).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Karena blog ini konsumsi publik, maka tidak semua hal bisa saya ceritakan mengenai "urusan dapur" bisnis. Rahasia perusahaan :) Yang jelas, saya mendefinisikan masa-masa sulit karena pertama, cashflow sedang megap-megap. Yang kedua, harga-harga bahan baku naik cukup banyak. Yang ketiga, kok ya tahun ini ordernya nggak semoncer tahun-tahun kemarin.....(i missed those cash-abundant years). Yang keempat, ada banyak masalah internal yang belum terbereskan sehingga ikut membebani masalah baru yang muncul.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Buseeet.....banyak banget yah penyebabnya ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Untuk bisnis percetakan, pasca Lebaran ini saya terpaksa harus mem-PHK 3 karyawan sekaligus, dan 2 di antaranya adalah karyawan lama, dan itu artinya.....PESANGON BERLIPAT!! Setelah saya cukup shock pada Lebaran hari ke-2 bahwa sisa saldo operasional perusahaan saya tinggal ratusan ribu (in Rupiah, of course :D), saya mendapati kejutan berikutnya bahwa masih banyak tagihan yang jatuh tempo pada bulan Oktober ini. Juga pada akhirnya saat saya memutuskan merampingkan perusahaan, saya tahu bahwa saya benar-benar harus jadi makhluk haus-cash. Belum lagi untuk gaji karyawan....belum lagi gaji diri sendiri untuk menafkahi anak istri.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sudah cukupkah sampai di situ ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Seandainya saja piutang-piutang bisa cair, mungkin saya tidak akan megap-megap seperti ikan keluar dari kolam. Masalahnya adalah....you know lah....piutang yang diharapkan belum bisa cair. Grrreeeaaatttt. Selain itu, untuk mengelola cash-flow, terpaksa cicilan-cicilan ke bank harus saya atur. Beberapa bank sudah berhasil saya nego untuk rescheduling pembayaran utang. Beberapa yang lain belum. Dan saya merasa sebeelll banget terhadap bank untuk urusan ini. Kalau pas mereka butuh, ya ampuuun....ngejar-ngejar terus, dan saat kita sebagai nasabah kesulitan, kok kayaknya malah mereka tidak mempermudah kita ya? Yang ada malah dikejaaarr terus untuk bayar cicilan. Ya tidak salah sih, tapi bagaimanapun juga saya kan nasabah mereka, dan i'm in trouble yang harusnya mereka care sedikit lah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Bagi bank-bank yang sudah mau mencarikan solusi buat saya, terima kasih. Dan buat bank-bank yang tahunya cuma "pokoknya-bank-dapat-duit-persetan-nasabah-harus-jungkir-balik", lihat saja ntar...once i've settled my debts, ke laut aja deh kalian!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sekarang ngomongin tentang bisnis penerbitan ya. Alhamdulillah sebagian buku Neomedia mulai diretur oleh distributor kami yang bermasalah. Dengan demikian buku-buku itu bisa diputar oleh distributor baru. Tapiii belum semua masalah beres dengan distributor lama. Masih ada piutang yang besar di distributor itu. Akibatnya untuk produksi judul-judul baru, Neomedia agak seret nih. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Hiiiihhh......&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Masalah kok ya ga beres-beres sihhhh......&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Walaupun demikian, saya hanya bisa tetep maju, keep on going, banzai banzai!! Mengapa? After all, jika saya berhenti pada titik ini, maka saya akan menyia-nyiakan segala yang telah saya perjuangkan. Jadi? Ya harus tetep maju, meskipun dulu maju dengan kecepatan 100 km/jam, sekarang mungkin turun jadi 30 km/jam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Tidak apa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Harus terus maju.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sudah menjadi sunnatullah/hukum alam bahwa siapa menabur angin, akan menuai badai. Dan saya percaya hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-8842249254270255890?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/8842249254270255890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=8842249254270255890' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/8842249254270255890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/8842249254270255890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/11/through-bad-times-through-good-times.html' title='Through Bad Times, Through Good Times'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SSJWIwtoyhI/AAAAAAAAACM/-_VBaoEhvy0/s72-c/man-business-problem.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-1216802063964399008</id><published>2008-08-15T13:11:00.003+07:00</published><updated>2008-08-30T12:11:28.385+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='entrepreneurship'/><title type='text'>Rumus Sederhana Blue Ocean</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SLjWb56RiKI/AAAAAAAAAB8/LB-YoRrG4GY/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240173941335623842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SLjWb56RiKI/AAAAAAAAAB8/LB-YoRrG4GY/s320/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagi kalangan bisnis, tentu sudah pernah mendengar istilah Blue Ocean. Ya, samudera biru. Ada bukunya, yang nulis,....siapa ya, saya lupa, pokoknya 2 orang pakar lah. Saya sendiri belum baca (koreksi : males), karena belum sempat baca bukunya sudah sering membaca/mendengar tentang apa itu konsep Blue Ocean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, konsep Blue Ocean adalah bagaimana caranya supaya produk bisa memiliki nilai diferensiasi tinggi, kalau perlu di dunia ini cuma ada satu produk tersebut. Pesaingnya sedikit, syukur-syukur tidak ada. Dengan itu, harga bisa dibandrol tinggi. Berlawanan dengan Red Ocean yang digambarkan sebagai bisnis yang pesaingnya sudah banyak, sehingga senjata utama adalah banting-bantingan harga. Margin makin tipis. Hancur-hancuran deh. Konon, bisnis basis komoditas (sembako, material, komputer) rentan masuk ke Red Ocean. Tapi bukan berarti Red Ocean adalah harga mati. Masih banyak bisnis di Red Ocean yang masih hidup dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang, apakah Blue Ocean itu suatu utopia semata? Alias hal yang ajaib untuk bisa diraih? Kalau bisa diraih, bagaimana caranya? Berikut ini, saya mencoba men-share pemikiran saya tentang bagaimana supaya bisnis Anda bisa di area Blue Ocean, kalaupun tidak persis sama, ya minimal nyerempet-nyerempet...:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban secara singkat (versi saya) : milikilah 2 bisnis. Tapi bukan sembarangan bisnis lho. Apapun produknya, buatlah bisnis yang tujuannya langsung ke konsumen. Istilahnya B2C. Artinya produk bisnis Anda langsung dinikmati konsumen umum. Karena yang ditarget adalah masyarakat umum, berhati-hatilah melakukan segmentasi pasar Anda. Contoh bisnis B2C ini jelas banyaaaak : counter makanan, counter baju, counter warung, toko kelontong, warnet, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus saya, bisnis B2C saya adalah penerbitan buku. Saya melempar buku-buku terbitan saya ke toko-toko buku seperti Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung, dll. Saya melemparnya lewat distributor dengan sistem konsinyasi. Meskipun lewat distributor, saya anggap ini adalah bisnis B2C karena sasarannya jelas : konsumen umum alias end user.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, setelah memiliki bisnis B2C, milikilah satu bisnis lagi yang sifatnya B2B, yaitu bisnis yang konsumennya adalah sektor bisnis lain, bukan konsumen umum. Tapi jangan lupa, bisnis B2B yang ini haruslah yang SINKRON dengan bisnis B2C Anda. Percuma saja kalau tidak sinkron. Jadikan bisnis B2B ini sebagai produsen produk-produk bisnis B2C Anda. Sebagai contoh : jika bisnis B2C berupa counter baju, maka bisnis B2B-nya adalah jasa produksi/jahit baju, jika bisnis B2C berupa counter makanan, maka bisnis B2B-nya adalah pabrik yang memproduksi bahan baku makanan. Jika bisnis B2C berupa warnet, bisnis B2B-nya adalah ISP, dll. Tentu saja Anda juga bisa mencari pelanggan lain untuk bisnis B2B ini, bahkan disarankan untuk itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebagian besar franchisor mengadopsi sistem ini. Mereka (franchisor) berada pada sisi B2B, sedangkan B2C adalah pihak terwaralaba (franchisee). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Poin penting lagi : PISAHKAN MANAJEMEN bisnis B2B dengan B2C, meskipun keduanya sama-sama milik Anda. Kalau tidak, akan sama saja bohong. Organisasi bisnis Anda akan jadi lebih tambun dan berat. Anda akan repot sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus saya, bisnis B2B saya adalah bisnis percetakan, dan B2C-nya adalah penerbitan. Percetakan saya namanya Bahagia Printing (BP), penerbitan saya namanya Neomedia (NEO). Bisa dikatakan, BP adalah exclusive partner NEO, dalam implementasinya, NEO mencetakkan buku-bukunya di BP. Bayar? TENTU SAJA. Manajeman BP dan NEO sangat-sangat terpisah, bahkan keduanya memiliki badan hukum yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cita-cita saya adalah membesarkan NEO sehingga order cetak NEO ke BP bisa memenuhi kapasitas produksi BP. Artinya, tanpa harus repot-repot bersaing mencari pelanggan, BP bisa profitable cukup dari order cetak buku-buku NEO. Apalagi kalau ditambah dari pelanggan lain. Sebaliknya, BP pun juga harus memberikan kemudahan bagi NEO, misalnya saja dari termin pembayaran, layanan pelanggan, dll. Dengan kemudahan termin pembayaran, NEO bisa "rajin" menggempur pasar dengan judul-judul baru sehingga brand dan daya saingnya semakin terkerek. Karena dua bisnis ini milik saya, tidak mungkin saya menggantinya dengan yang lain. Misalnya saja, NEO mencetak di percetakan lain....wah jangan sampai deh! Dengan kata lain, BP jadi seperti tanpa pesaing dalam memperoleh order cetak buku dari NEO. Di sisi lain, NEO juga tidak perlu bingung urusan cetak, cukup serahkan ke BP saja. Inilah yang saya maksud Blue Ocean versi saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini juga bukan berarti BP terus leha-leha, karena BP juga harus menerima order dari pelanggan lain dengan tujuan "mengingatkan dunia luar" bahwa BP masih tetap eksis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nah, dengan "konfigurasi" seperti itu, diharapkan akan tercipta sinergi bisnis-bisnis Anda. Akan tercipta Blue Ocean di antara bisnis-bisnis Anda. Sekarang, apakah semudah itu menciptakannya? Jawaban saya : TIDAK. Diperlukan "otot dan otak bisnis" yang kuat. Nevertheless, mudah-mudahan tulisan saya ini bisa memberikan inspirasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-1216802063964399008?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/1216802063964399008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=1216802063964399008' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/1216802063964399008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/1216802063964399008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/08/rumus-sederhana-blue-ocean.html' title='Rumus Sederhana Blue Ocean'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SLjWb56RiKI/AAAAAAAAAB8/LB-YoRrG4GY/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-7563717794795110255</id><published>2008-08-15T11:37:00.007+07:00</published><updated>2008-08-30T11:43:43.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my business'/><title type='text'>Biarpun Tidak Berdasi, Asal Mobilnya Mercy...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SKUbvSosEdI/AAAAAAAAAB0/vAiE-A5OFSI/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234620641158369746" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SKUbvSosEdI/AAAAAAAAAB0/vAiE-A5OFSI/s320/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kata-kata dari judul di atas itulah yang saya sampaikan ke bos saya waktu kerja di PT. Praweda Ciptakarsa Informatika. Bos saya waktu itu, Mas Arief Debyatman, manggut-manggut memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, waktu itu saya berbincang-bincang santai dengan Mas Arief, tentang impian saya menjadi pengusaha. Sedikit mengupas masa lalu, selepas saya lulus dari IPB jurusan Ilmu Komputer tahun 2000, saya sudah diterima di beberapa perusahaan IT di Jakarta (Alhamdulillah). Dari beberapa perusahaan yang menerima, saya memutuskan untuk mengambil tawaran di PT.Praweda saja, karena 2 alasan : Pertama, dulu saya praktik lapang di situ, dan kedua, lokasi kantor di Praweda ada di Jl. Slipi, sehingga BEBAS dari 3 IN 1....dan inilah alasan utama saya! Saya mikir, masa sih demi kerja harus rela masuk area 3 in 1...ribet banget ah kalo pas pake mobil....(Seorang teman pernah tertawa habis ketika saya ceritakan alasan kedua ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya berkarier di Praweda selama beberapa tahun. Dikomandani oleh Mas Arief, saya memberikan all the best ke Praweda. Sebenarnya Mas Arief ini adalah teman sekolah di Semarang dan kuliah kakak saya di ITB dulu, dan Mas Arief ini orang Semarang juga! Terakhir bertemu Mas Arief sebelum di Praweda adalah ketika saya masih SD, waktu itu Mas Arief "diangkut" kakak saya ke rumah dan diperkenalkan ke saya sebagai "Mas BATMAN" (karena last namenya adalah 'deByATMAN'.....sungguh garing humor kakak saya itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada pula sekretaris Praweda yang namanya Mbak Ayu, dan dia itu adalah adik kelas kakak saya pas SMP yang temannya Mas Arief itu, dan otomatis adalah adik kelasnya Mas Arief juga! Woww...dunia yang sempit...sudah merantau ke tanah Jakarta, masih juga ketemu orang-orang sekampung, masih satu perusahaan lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering curhat ke Mas Arief tentang berbagai hal. Salah satunya adalah angan-angan saya untuk bisa punya usaha....ya gara-gara terprovokasi oleh sebuah buku pengusaha sukses. Hingga satu kata tercetuslah kalimat saya : "Jadi pengusaha kayaknya enak ya....biarpun tidak berdasi, tapi yang penting mobilnya Mercy....". Setelah itu saya tidak mengingat kalimat itu lagi hingga satu ketika saya curhat ke Mas Arief tentang kebimbangan saya antara mau resign dari Praweda untuk memulai bisnis, atau masih lanjut dulu kerja sebagai profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata terjadi satu hal yang tidak diduga. Suatu hari, saya terima email dari Mas Arief. Sempat heran juga, lha masih satu bagian kok email-emailan segala. Dan...pakai bahasa Inggris lagi! Ternyata di email itu, Mas Arief mengutip kata-kata saya di atas. Kalo di-Inggriskan menjadi 'wear no tie, but ride a Mercy'. Ada kalimat terusan setelah itu yang tidak bisa saya lupakan. Begini nih kurang lebih (menurut ingatan saya) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bie, you said about 'Wear no tie, but ride a Mercy'. I believe that your successful future is there, and i have a good feeling that you should pull your future from there to here.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya merasa terharu atas perhatian bos saya. Bagian yang menyarankan saya untuk "menarik masa depan" ke "masa kini" itulah yang membulatkan tekad saya untuk resign dari Praweda dan memulai bisnis saya. Artinya, saya tidak boleh ragu, jika ingin memulai bisnis, mulailah sekarang. Kira-kira itu pesan yang saya tangkap dari Mas Arief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu saya ke ruangan bos, dan berkata : "Mas, caramu ngusir saya secara halus berhasil. Saya jadi yakin dengan rencana saya". Mas Arief cuma tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And so be it.....Sekarang inilah saya, mantan jongos IT yang kini merentas "karier" sebagai pengusaha. Long way to go ahead....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, saya mau mengucapkan terima kasih untuk Mas Arief. Dari bapak inilah saya belajar satu bentuk leadership. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, dengan segala kebenaran dan kesalahan yang pernah terjadi, you earned my respect. Thanks a lot, ex-boss !!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-7563717794795110255?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/7563717794795110255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=7563717794795110255' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/7563717794795110255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/7563717794795110255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/08/biarpun-tidak-berdasi-asal-mobilnya.html' title='Biarpun Tidak Berdasi, Asal Mobilnya Mercy...'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SKUbvSosEdI/AAAAAAAAAB0/vAiE-A5OFSI/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-866606061520083596</id><published>2008-08-08T10:59:00.004+07:00</published><updated>2008-08-08T11:29:56.413+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self-improvement'/><title type='text'>Lagi-Lagi EQ...Tapi (Mungkin) Ini BEDA!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SJvK9TU0fWI/AAAAAAAAABk/Zs8dEb1nlRk/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SJvK9TU0fWI/AAAAAAAAABk/Zs8dEb1nlRk/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231998546629393762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kita sudah sering membaca bahwa salah satu dimensi kecerdasan adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ). Konon, EQ inilah yang mendobrak dominasi dan monopoli IQ. Duluuuu kita selalu dicekoki bahwa orang dengan IQ tinggi pasti akan sukses dalam bidang pekerjaannya. Eh, tiba-tiba datanglah konsep EQ yang kemudian memberikan pandangan lain bahwa kesuksesan tidak semata-mata IQ thok, EQ juga memberi pengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, apa sih definisi EQ? Hmmm...terus terang saya tidak rajin membaca referensi tentang EQ secara khusus. Akan tetapi saya punya pendefinisian EQ dengan cara melakukan induksi logika terhadap IQ. Begini nih induksi dan analogi saya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering dikatakan bahwa seseorang IQ-nya tinggi kalau dia bisa mengerjakan hal-hal/persoalan yang menyangkut daya analitis. Artinya, otaknya ditantang. Sel-sel otak kelabunya (meminjam istilah Hercule Poirot) dipaksa bekerja keras menyelesaikan persoalan yang ada di depan mata. Contohnya saja, menyelesaikan soal ujian. Atau mungkin belajar dari textbook yang setebal buku telepon, tapi si orang itu bisa cepat memahami isinya.&lt;br /&gt;Nah, kalau orang itu IQ-nya rendah, berarti otaknya tidak bisa menerima tantangan. Kacau jadinya. Mungkin saja jawab soalnya pakai aji ngawur-ngawuran. Yang rugi ya dirinya sendiri, dapat nilai jelek.&lt;br /&gt;Padahal di sisi lain, belum tentu orang ber-IQ tinggi dengan mudah menyelesaikan soal-soal ujian. Mungkin tetap saja mereka bingung/kesulitan mengerjakan soal ujian atau memahami isi textbook yang tebal, tapi otak mereka punya daya tahan tinggi terhadap "siksaan" itu. Bisa dikatakan orang itu cerdas secara intelektual. Di sini kata kuncinya adalah TANTANGAN dan DAYA TAHAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang hasil induksi ini kita terapkan ke EQ. Jika pada IQ yang ditantang adalah otak, maka pada EQ yang ditantang adalah emosi/mental. Jika pada IQ ujiannya berupa soal-soal tertulis, pada EQ ujiannya adalah kondisi real, termasuk orang-orang di dalamnya.&lt;br /&gt;Misalnya jika kita menghadapi pelanggan yang complain, marah-marah, habis itu bayar jasa/produk kita susahnya minta ampun.....Atau mungkin sudah janjian sama teman, sudah jauh-jauh hari diatur, ternyata pas hari H si teman ga datang atau telat tanpa merasa berdosa.....&lt;br /&gt;Kalau menjumpai sikon di atas,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; what would we do? Kita mau ngapain? Pasti pingin getak si pelanggan atau teman gak tau diri itu ya...hehehe sama dong....lha habisnya sebel sih....&lt;br /&gt;Tapi kalau itu dilakukan, apakah bisa dikatakan kita cerdas secara emosional? Yang ada malah kita dikatain temperamental alias bego emosional. Kalau gitu, cara cerdasnya gimana dong menghadapi hal seperti di atas? Ya simpel saja, kebalikan dari hal-hal yang membuat kita bego secara emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menghadapi kondisi-kondisi real dalam kehidupan, akan banyak hal yang pasti menyulut emosi kita. Itu artinya ada tantangan untuk mental/emosi. Sekarang, jika kita memiliki daya tahan mental terhadap tantangan tersebut, maka bisa dikatakan kita cerdas secara emosi. Mengapa? Karena kita tidak melakukan hal-hal bodoh yang merugikan diri kita karena terbawa emosi. Juga karena kita bisa menghadapi tantangan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitulah definisi saya yang mungkin ngasal, tapi saya yakin ada benernya kok. Mudah-mudahan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-866606061520083596?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/866606061520083596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=866606061520083596' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/866606061520083596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/866606061520083596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/08/lagi-lagi-eqtapi-mungkin-ini-beda.html' title='Lagi-Lagi EQ...Tapi (Mungkin) Ini BEDA!'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SJvK9TU0fWI/AAAAAAAAABk/Zs8dEb1nlRk/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-6936654853075128992</id><published>2008-08-07T20:43:00.007+07:00</published><updated>2008-08-08T11:40:46.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Cintaku Nan Error</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SJuK_rWtuKI/AAAAAAAAABc/MWwV57UOAm4/s1600-h/DSCN0907.aJPG.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SJuK_rWtuKI/AAAAAAAAABc/MWwV57UOAm4/s320/DSCN0907.aJPG.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231928218695350434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ternyata yang bisa error bukan hanya saya. Istri saya tercinta pun juga error. Kecuali ketika saya menulis kata 'tercinta', ini saya sedang tidak error lho!  Sueeerr !!! *ngerayu mode : ON*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-SCENE 1-&lt;br /&gt;Situasi : di meja kerja istri (waktu itu istri masih kerja), istri membuka-buka majalah yang barusan dibelinya&lt;br /&gt;Istri : Ih mas, ini ada iklan hape baru, gambarnya lucu, masa jerapahnya yang pake hape sambil nyengir&lt;br /&gt;Saya : Mana sih? * sambil melihat iklannya *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya lihat adalah tagline iklan hape yang bunyinya (kurang lebih) : BEGITU MUDAH, SIAPAPUN BISA. Gambarnya adalah seekor binatang kartun dengan nyengir khas, bertelinga panjang, Maksud iklannya tentu menunjukkan hape tersebut sangat simpel, hingga diibaratkan bisa dipakai oleh binatang terbodoh di dunia....dan siapakah binatang yang dianggap bodoh, bertelinga panjang, dan sering nyengir ? Ya...itulah K-E-L-E-D-A-I, dan ingat, bahwa keledai TIDAK SAMA dengan jerapah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya : Jerapah gimana ? Ini kan keledai....k-e-l-e-d-a-i.......&lt;br /&gt;Istri : Eh iya ya....lha habisnya dari jauh kayak jerapah sih...*ngeles mode : ON*&lt;br /&gt;Saya : Ya sudah, nanti kita ke Gramedia, beli buku Seri Mengenal Binatang ya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-SCENE 2-&lt;br /&gt;Situasi : lagi di mobil, on the way to rumah....(ah, baiti jannati!)&lt;br /&gt;Istri : Mas, buahnya Tsani (putri kami) hampir habis lho&lt;br /&gt;Saya : Ya beli saja di jalan&lt;br /&gt;Istri : Mungkin beli buah, terus dibuat jus ya, Tsani kan seneng....&lt;br /&gt;Saya : Ya ntar beli buahnya di jalan&lt;br /&gt;Istri : *secara tiba-tiba* MAS! BERHENTI ! Tuh lihat! Berhenti di situ tuh yang jual BINATANG-BINATANGAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengerem mobil mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya : Binatang-binatangan? Yang mana? Kan katanya mau beli buah ? * tentu saja dengan raut muka bingung plus sebel harus ngerem mendadak*&lt;br /&gt;Istri : Lha itu tuh yang jual binatang-binatangan.......* dengan yakin, menunjuk sepeda yang diparkir di pinggir jalan, mendisplay barang dagangannya, bertuliskan : JUAL JAMBU MERAH *&lt;br /&gt;Saya : ...........* dengan suara lirih-lirih sebel*....itu kan JAMBU!&lt;br /&gt;Istri : Eh...jambu ya? * innocent mode : ON*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-SCENE 3-&lt;br /&gt;Situasi : di dalam kamar, di atas kasur, tapi sedang tidak dalam pose 17 tahun ke atas&lt;br /&gt;Istri : Mas, sini ! * sambil tiba-tiba memencet hidung saya *&lt;br /&gt;Saya : Bblllhh....gak bisa napas dong! Ini kenapa sih ? * sambil megap-megap bernapas *&lt;br /&gt;Istri : Lha habis lobang hidungnya Mas gede sih !!&lt;br /&gt;Saya : ...???? Iyya...tapi kan ga bisa napaaass.....&lt;br /&gt;Istri : Ya bernapas pake TELINGA dong....!!! Kan ada lubangnya kayak hidung, dipake napas kan bisa...&lt;br /&gt;Saya : ..??????......&lt;br /&gt;Istri : Kalo ga bisa pake telinga, bernapasnya pake MATA saja kalo gitu....kalo mata dikedip-kedipin kan ntar ada udara masuk lewat mata, nah itu dipake untuk bernapas...* ngawur mode : ON*&lt;br /&gt;Saya : .....!!!!!!!!!!!!!!.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-SCENE 4-&lt;br /&gt;Situasi : di rumah habis makan malam, kebetulan lauknya beli di warung pecel ayam dkk&lt;br /&gt;Istri : Mas, kalo beli di warung itu sebaiknya pas sore saja&lt;br /&gt;Saya : Kenapa ?&lt;br /&gt;Istri : Kan kalo masih sore, minyaknya masih fresh tuh, jadi masih tidak berbahaya. Kalo sudah malam, kan dipake terus untuk goreng, minyaknya jadi hitam-hitam gitu, kan bahaya untuk jantung&lt;br /&gt;Saya : *manggut-manggut* Ya gitu to....&lt;br /&gt;Istri : Tadi mas maemnya pake bebek goreng? Kalo KETELA-nya tadi enak juga sih, crunchy, garing....&lt;br /&gt;Saya : Loh, kamu tadi kan makannya LELE GORENG ?????&lt;br /&gt;Istri : Eh, lele to ? Habis bentuknya panjang-panjang mirip ketela sih....* tidak sinkron mode : ON *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-SCENE 5-&lt;br /&gt;Situasi : di dalam mobil, on the way home, malam hari&lt;br /&gt;Saya : Dhe (panggilan saya ke istri), habis ini mau ke mana atau makan apa?&lt;br /&gt;Istri : Sembaranggggg.....(jawa : Sembarang = terserah)&lt;br /&gt;Saya : Kalo gitu pulang saja, makan di rumah&lt;br /&gt;Istri : Ya wis....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu setelah itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri : Mas, pas malem-malem itu sebetulnya aku pengen jagung bakar lho&lt;br /&gt;Saya : Lho, katanya jawabnya sembarang..&lt;br /&gt;Istri : Iya, tapi aslinya pengen jagung bakar....kan sama saja, sembarang itu sama dengan jagung bakar&lt;br /&gt;Saya : Hahh..??? Kok bisaa...??? *protes*&lt;br /&gt;Istri : Iya, aku kan jawabnya SEMBARANG, itu maksudnya aku pengen JAGUNG BAKAR. Soalnya SEMBARANG dan JAGUNG BAKAR itu sama-sama ada sama-sama ada huruf A-nya, sama-sama ada huruf R-nya, sama-sama ada huruf NG-nya, jadi sebetulnya SEMBARANG = (sama dengan) JAGUNG BAKAR. Kita kan sudah menikah, Mas harusnya tahu itu dongg......&lt;br /&gt;Saya : .....engggg........ *speechless*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sodara-sodara, bagaimana dengan istri Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-6936654853075128992?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/6936654853075128992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=6936654853075128992' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/6936654853075128992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/6936654853075128992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/08/cintaku-nan-error.html' title='Cintaku Nan Error'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SJuK_rWtuKI/AAAAAAAAABc/MWwV57UOAm4/s72-c/DSCN0907.aJPG.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-6753252871488877026</id><published>2008-07-08T11:10:00.002+07:00</published><updated>2008-07-08T12:24:21.342+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Saya yang Error</title><content type='html'>"Kamu sok tahu...!"&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kata salah satu kakak kepada saya waktu kecil. Waktu itu gondok saja dibilang gitu. Masalahnya apa, saya sudah lupa...Terus terang saja, saya paling takut dengan kakak laki saya yang ngatain kalimat di atas. Sudah gitu wajahnya serem lagi....tapi herannya konon dia banyak disukai wanita. Ahh...dunia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa hubungan kata-kata kakak saya dengan postingan ini? Well...saya tidak tahu apa dia punya ilmu cenayang, yang jelas omongan dia sekarang terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang sok tahu.&lt;br /&gt;Saya memang sok yakin.&lt;br /&gt;Saya memang sok pede.&lt;br /&gt;.....biarpun kadang banyak errornya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pada acara Pestipal Angkringan di JDC, saya datang bersama istri. Kebetulan di situ ada stand telor asin, makanan yang digemari istri (dan saya juga jadi ikut-ikutan menggemarinya). Karena pernah trauma makan telor asin yang tidak asin, istri saya "menginterogasi" penjual telor asin, seorang ibu-ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri : "Bu...telor asinnya asin gak ?"&lt;br /&gt;Penjual : ...... (melihat dengan tatapan mau protes)....."Ya asin lah mbak ! Silahkan pilih mau yang asin beneran, asin sedang, atau agak asin...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beli, kok ternyata telornya memang asin, istri saya jadi ingin beli lagi. Dari kartu namanya, alamat penjualnya di Jl. Kenconowungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya : "Oooohhh....aku tahu di mana itu..." (berkata dengan nada yakin)&lt;br /&gt;Istri : "Di mana ya?"&lt;br /&gt;Saya : "Deket rumah kok, masih wilayah Semarang Barat" (masih dengan nada pede)&lt;br /&gt;Istri : "Di mana persisnya?"&lt;br /&gt;Saya : "Itu lho....deket BCA Siliwangi, deket salon XYZ (salon milik kenalan)"&lt;br /&gt;Istri : "Mas, itu kan Jalan Cokrokembang!" (protes)&lt;br /&gt;Saya : "Ah....masa sih ? Salah ya... " (keyakinan saya mulai goyah)&lt;br /&gt;Saya : "Hmmm, iya ding, Kenconowungu kan di daerah dekat bunderan Kalibanteng"&lt;br /&gt;Istri : "Mas, itu kan Jalan Cakrawala !" (protes lebih keras)&lt;br /&gt;Saya : "Haaahh ? Eh iya ya...yang isinya tanah sengketa itu..." (mulai terkikis rasa pedenya)&lt;br /&gt;Saya : "Kalo gitu, pasti dekatnya situ, ada jalan masuk, sebelahnya SMEA. Pasti itu"&lt;br /&gt;Istri : "Pasti ?"&lt;br /&gt;Saya : "PUUASSSTTIIII"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktu kami lewat jalan itu, ternyata itu adalah Jl. Ronggolawe. Istri saya melihat dengan tatapan lebih dari sekedar protes. Saya tidak bisa berkata-kata lagi......kecuali kalimat berikut : "Oooh iya ding...itu kan Jl. Ronggolawe, dulu pas ikut Jambore Daerah aku training di situ...cuma lupa nama jalannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI MANA SIH JL. KENCONOWUNGU ??? Dulu saya ingat pernah lewat situ, tapi sekarang lupa di mana tempatnya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengalaman di atas, saya pernah mengalami error yang lebih fatal. Kali ini menyangkut keluarga. Di keluarga dari Ibu saya, ada seorang Budhe (bibi) di Yogyakarta. Kalau ada even-even penting, pasti Budhe ini diundang. Salah satunya pas kawinan saya. Suatu ketika, istri saya bertanya siapa sebenarnya Budhe Yogya itu dan apa hubungannya dengan Ibu. Dengan santai, saya jawab itu kakak sepupu Ibu, karena setahu saya, Ibu itu satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Jadi kalau ada Budhe, tentulah itu bukan kakak asli Ibu. Logika yang cermat kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ketika, istri saya iseng-iseng nanya ke Ibu :&lt;br /&gt;Istri : "Bu, Budhe yang di Yogyakarta itu memang kakak sepupunya Ibu ?"&lt;br /&gt;Ibu : "HAH ???? Siapa yang bilang begitu??"&lt;br /&gt;Istri : "Ya...Mas Habibi, katanya Budhe Yogya itu kakak sepupu Ibu"&lt;br /&gt;Ibu : "HABIBI ITU NGAWUR HUSSSHHH !!! Budhe Yogya itu memang KAKAKNYA Ibu!"&lt;br /&gt;Istri : .................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saya tidak ada di situ ketika percakapan di atas terjadi. Tetapi bagaimana jika satu saat Ibu menanyakan tentang hal itu tadi ???&lt;br /&gt;Saya akan menjawab begini : "Lah...saya nggak ngomong seperti itu kok...mungkin Yani (istri saya) yang salah denger...."&lt;br /&gt;Gampang, tidak repot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya to ??? ... *sambil bersiap-siap dipelototin istri"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-6753252871488877026?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/6753252871488877026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=6753252871488877026' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/6753252871488877026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/6753252871488877026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/07/saya-yang-error.html' title='Saya yang Error'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-707430186945758132</id><published>2008-07-07T14:17:00.006+07:00</published><updated>2008-07-07T15:32:28.371+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>La Guitarra et Violinza</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHM9i3TVSI/AAAAAAAAABA/KXRXb6swcHA/s1600-h/Image249.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHM9i3TVSI/AAAAAAAAABA/KXRXb6swcHA/s320/Image249.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220178800801961250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terus terang, saya ngawur saja saat menulis judul di atas. Kalau menurut saya, arti judulnya adalah "Gitar dan Biola", tapi nggak tahu ya, apa benar seperti itu. Harusnya La Guitarra et Violin, tapi saya tambahin "za" biar lebih indah. Namanya juga ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eniwei, posting ini hanya sekedar bercerita hal yang ringan, tepatnya hobi. Kalau mungkin ada yang berhobi sama, bisa saling share.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hobi saya adalah memainkan musik. Catat itu. Memainkan. Bukan mendengarkan. Beda lho. Kalau mendengarkan, kita hanya pasif, tapi kalau bermain alat musik, jelas kita aktif memainkan dan menginterpretasikan nada-nada musik. Alat musik yang bisa saya mainkan adalah drum, gitar klasik, dan biola. Alat musik pertama bisa dung dung tak, alat musik kedua bisa jreng jreng, alat musik ketiga bisa ngek ngik ngok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu SMA saya cukup aktif nge-band dengan teman-teman sekolah di bawah bendera Locomotive Band. Saya pegang (dan memainkan) drum. Waktu itu, gaya ngedrum saya terpengaruh oleh Mat Solar....eh...Matt Sorum, drummernya Guns 'N Roses. Kalau drummer-drummer sekarang, idihhhh...saya bergidik ngeliat cara mainnya. Keren-keren abis !!! Apalagi drummernya Dream Theater, meskipun ini grup agak lama, main drumnya dahsyat abis. Main skill doang! Sekarang saya sudah kaku abisss untuk ngedrum. Jadi alat musik ini bisa dibilang sudah tinggal kenangan. Kenangan yang indah, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat musik berikutnya yang saya bisa adalah biola. Waktu masih di Jakarta, saya mikir pingin punya skill musik yang nggak semua orang bisa. Mikir-mikir...nimbang-nimbang .....Nyanyi? Wah baru buka mulut saja sudah fals. Gitar? Basi juga nih, sudah banyak yang maestro... (maaf ya para gitaris-gitaris !). Sempat mau belajar flute, tapi pada saat bersamaan juga tertarik biola. Kayaknya para violinis (pemain biola) kalau main gayanya keren-keren, suara biolanya menyayat hati. Coba ya, biola itu senarnya cuma 4, tapi nadanya bisa dari rendah sampai tinggi ngimbangin oktafnya Mariah Carey. Oke deh, diputuskan kursus biola !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kursus, saya harus terima kenyataan bahwa saya salah beli biola. Itu terjadi di Blok M. Harusnya saya beli ukuran 4/4 (dewasa) malah beli ukuran 3/4 (anak-anak).  Ya sudah, saya beli lagi saja yang bener. Setelah agak bisa main biola, saya kemudian beli biola lagi yang lebih mahal dan suaranya (sepertinya) lebih enak. Biola lama saya jual ke teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu saya juga beli buku belajar biola untuk pemula dari Amazon.com. Lumayan lah&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi saya merasa lebih baik kursus saja. Saya sempat kursus di Yayasan Musik Indonesia di daerah Fatmawati, dan satu lagi di Kawaii. Sampai saya pindah Semarang, saya masih aktif kursus. Bahkan sempat manggung 3-4 kali bareng teman-teman kursus lainnya. Sekarang saya sampai buku Suzuki Violin volume 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan saya belajar biola, saya lengkapi dengan kursus gitar klasik. Mengapa bukan gitar elektrik? Ya sebenernya ingin juga, tapi pingin saja belajar yang sulit. Konon gitar klasik lebih sulit. Memainkannya saja sampai 10 jari :) Alhasil, dari 2004 sampai sekarang, saya masih kursus gitar klasik. Sekarang saya grade 6 (gitar bermula dari basic, grade 10, grade 9, hingga grade 4 maksimal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHT8yab2hI/AAAAAAAAABI/qmNWjWCT-WY/s1600-h/Image247.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHT8yab2hI/AAAAAAAAABI/qmNWjWCT-WY/s320/Image247.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220186484377377298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagaimana dengan gitarnya? Awalnya saya beli yang 300 ribuan, terus pas ada rejeki, saya beli yang 1,5 juta di Yamaha Jakarta. Kemudian waktu saya bulan madu ke Singapore awal 2006, saya niatkan beli gitar lagi di sana. Sekitar 475 S$. Dollar Singapore loh. Kalau dikurskan ke Rupiah, kira-kira 2,5 jutaan. Bad thing about musical instruments is : the more expensive, the more you get better sound. Harga segitu cukup nguras kocek saya. Jadi bukan semata-mata untuk bergaya atau nyombong, tapi hobi saya memang itu. Untung istri saya bisa ngerti. Sekarang saya punya cita-cita ingin beli biola langsung made in Europe, belinya di Europe juga, dan ingin beli gitar flamenco made in Spain, belinya juga di Spanyol. Dengan kata lain : ingin jalan-jalan ke Eropa :D ....entah kapan....tapi pasti saatnya akan tiba. Amin :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-707430186945758132?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/707430186945758132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=707430186945758132' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/707430186945758132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/707430186945758132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/07/la-guitarra-et-violinza.html' title='La Guitarra et Violinza'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHM9i3TVSI/AAAAAAAAABA/KXRXb6swcHA/s72-c/Image249.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-8321164919623318670</id><published>2008-07-04T13:44:00.006+07:00</published><updated>2008-07-07T15:43:41.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my business'/><title type='text'>Neomedia On Air...!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG3NmPcQEZI/AAAAAAAAAAs/frXvWZ9nq-Y/s1600-h/Kacih684.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 304px; height: 229px;" src="http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG3NmPcQEZI/AAAAAAAAAAs/frXvWZ9nq-Y/s320/Kacih684.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219053600056021394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada hari Kamis, tanggal 3 Juli kemarin, saya dan EZ didapuk menjadi tamu dalam acara bincang-bincang inspirasi bisnis dari radio Suara Sakti 105.2 FM. Kami on air dari jam 9 sampai jam 10 pagi. Bisa dibilang ini kerjaannya Pak Bambang dari EU Semarang sehingga kami bisa on air, well...i have to thank him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan EZ datang sekitar jam 8.30 dan menunggu host acara, yaitu Mas Donny SW. Kebetulan Mas Donny ini salah satu pemberi testimoni buku 101 Penulis Kaya yang diterbitkan IdeMedi@. Jadi saya sudah tahu namanya duluan tapi belum tahu orangnya. Sebentar kemudian Mas Donny datang, dan setelah saling memperkenalkan diri, kami berbincang-bincang sejenak mencairkan suasana. Mas Donny-nya sendiri juga orang yang santai dan enak diajak bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati jam 9, kami masuk ke ruang siaran. Agak grogi juga karena ini baru pertama kali on air. Di dalam ruang siaran, kami memakai headphone sehingga bisa langsung mendengar siaran radionya. Untuk berbicara, kami menggunakan mic. Acara ini dipandu oleh penyiar bernama Citra yang menurut saya, anaknya manis dan suaranya enak, pas banget jadi penyiar deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mulai acara, ternyata siaran itu enjoy ya. Mas Donny dan Citra membawakannya enak banget, ngalir, sehingga saya dan EZ bisa lebih rileks. Bincang-bincang dimulai dari perkenalan saya dan EZ sebagai "men behind the gun"-nya Neomedia (penerbitan kami). Memang topiknya adalah tentang usaha penerbitan. Tahu sendiri kan, orang Indonesia itu kan budayanya nonton dan dengar. Baca belum membudaya. Lha kok ini bisa-bisanya ada 2 orang nekad mendirikan penerbitan. Sampai masuk radio lagi :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bercerita awal saya terjun dunia usaha karena duluuuu...pas saya masih jadi IT consultant di PT. Praweda (kantor tempat saya jadi jongos di Jakarta), saya sering tugas ke luar kota, naik pesawat paling pagi (jam 6), sehingga harus berangkat dari rumah (saya dulu nebenger di rumah kakak) jam 4 pagi. Jam 4 pagi!!! Shalat Subuh saja di bandara....apa gak ngenes tuh. Waktu di bandara, saya sering lihat orang-orang wira wiri, tapi pakaiannya kasual, jelas berbeda dengan saya yang berpakaian kerja. Jelas mereka itu mau bepergian naik pesawat untuk keperluan fun, sedangkan saya harus bepergian naik pesawat untuk keperluan kerja. Kontras sekali. Jujur, saya ingin bisa seperti orang-orang yang saya lihat itu. Mereka lebih longgar waktu dan finansialnya daripada saya. Selain itu, saya juga makin lama makin ogah dengan kemacetan Jakarta. Saya merindukan hidup di tempat yang lebih tenang, tapi penghasilan tidak kalah dari mereka yang hidup di metropolitan. Maka dari itu, saya memutuskan untuk berwirausaha di tanah kelahiran saya, ya Semarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya, giliran EZ yang bercerita. Di sela-sela siaran, Mas Donny dan Citra sekali dua kali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menarik dan dijawab oleh saya dan EZ bergantian. Dengan demikian, suasana siaran jadi berimbang, semua kebagian ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran ini interaktif, jadi bisa menerima SMS ataupun telpon dari pendengar yang ingin bertanya. Kebanyakan yang masuk SMS, bertanya tentang usaha penerbitan itu bagaimana, kendalanya apa, modalnya berapa, dll. Ada juga yang bertanya tentang cara menulis buku yang bisa jadi best seller, trik memasukkan buku ke penerbit, dsb. Alhamdulillah kami bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Harapan saya, dengan siaran ini, paling tidak masyarakat umum bisa mendapatkan gambaran lebih baik mengenai dunia penerbitan, terutama dari sisi bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara berlanjut hingga pukul 10. Selesai acara, kami sempatkan ngobrol-ngobrol dengan Mas Donny dan Citra, plus foto-foto bersama. Terima kasih untuk Suara Sakti 105.2 FM, Mas Donny, dan Citra atas sambutannya yang baik :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG3lxetRlxI/AAAAAAAAAA0/hOCXueL3fp8/s1600-h/Kacih686a.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG3lxetRlxI/AAAAAAAAAA0/hOCXueL3fp8/s320/Kacih686a.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219080181411583762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-8321164919623318670?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/8321164919623318670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=8321164919623318670' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/8321164919623318670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/8321164919623318670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/07/neomedia-on-air.html' title='Neomedia On Air...!'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG3NmPcQEZI/AAAAAAAAAAs/frXvWZ9nq-Y/s72-c/Kacih684.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-2102733229004884959</id><published>2008-07-04T10:41:00.005+07:00</published><updated>2008-07-07T15:45:21.009+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my business'/><title type='text'>Akhirnya...Bedah Buku Juga !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG2ncpq-BJI/AAAAAAAAAAc/2mRgwvnkl-Y/s1600-h/101a.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 185px; height: 238px;" src="http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG2ncpq-BJI/AAAAAAAAAAc/2mRgwvnkl-Y/s320/101a.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219011653856527506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini sekedar oleh-oleh berupa cerita bedah buku di Yogyakarta dan Semarang. IdeMedi@, salah satu lini penerbitan saya, menelorkan judul baru berjudul 101 Penulis Kaya karangan Albert Marbun. Buku ini berisi nama dan beberapa kisah 101 orang penulis yang ditahbiskan sebagai 'kaya' oleh penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi bedah buku pertama di Toga Mas Yogyakarta, di daerah Condong Catur, dekat arah masuk Jl. Gejayan (Jl. Affandi) dari Ringroad, tanggal 9 Juni 2008, jam 4 sore. Penyelenggaraan dikelola oleh Relasi Distribusi, distributor kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum acara, saya datang lebih awal untuk menemui Pak Albert dahulu yang kebetulan sudah berada di Yogyakarta dari kemarinnya. Ketika itu Pak Albert sedang melakukan deal bisnis dengan rekan-rekan dari Yogya. Pada kesempatan itu saya diperkenalkan dengan Suryono Ekotama dari Smartpreneur Club, yang juga bosnya ARN (Ananda Rambah Nusantara), konsultan wirausaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu EZ (Efvy Zam, kongsian saya di penerbitan) nyampe (dia berangkat pagi dari Semarang), saya mencoba es coklat di kafe Jendelo. Kafe ini terletak di lantai 2 Toga Mas. Es coklat yang saya pesan namanya aneh : Soeltan Agoeng Gagah Apa Gitu....saya lupa nama persisnya, tapi yang pasti rasanya enak dan...ngangenin !! Coklatnya dibuat dari coklat batangan yang diblender (mungkin ya, soalnya coklatnya pekat banget), dicampur susu, dan diberi ice cream vanilla di atasnya. Enak deh pokoknya !! Apalagi hawa Yogyakarta yang panas alias gerah alias sumuk, menambah kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dilakukan di kafe Jendelo, modelnya lesehan. Sempat saya agak ragu apakah pesertanya banyak, tapi Alhamdulillah, kekhawatiran saya bertolak belakang dengan kenyataan melihat banyak peserta yang lesehan. Yogya ini memang pantas menyandang gelar Kota Pelajar, karena atmosfir studentnya sangat kental. Di meja-meja kafe dari kayu, banyak pengunjung, rata-rata mahasiswa, buka laptop sambil main wi-fi. Kesannya sekolahan/kuliahan banget lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dimulai kira-kira pukul 4 lebih. Dimulai dari penjelasan Pak Albert mengenai alasan menulis buku tersebut, acara mengalir lancar dipandu moderator hingga sesi tanya jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG2o1SMPtxI/AAAAAAAAAAk/Wg6Bv0Gn7b4/s1600-h/Kacih629a.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG2o1SMPtxI/AAAAAAAAAAk/Wg6Bv0Gn7b4/s320/Kacih629a.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219013176562005778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada sesi tanya jawab, kebanyakan peserta bertanya tentang teknis penulisan hingga bisa terbit. Dengan senang hati dan gaya berceritanya yang khas, Pak Albert melayani semua pertanyaan. Acara berakhir sekitar jam 6 kurang. Saya cukup senang dengan penyelenggaraan bedah buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah di Yogya, bedah buku dilakukan di Semarang, tepatnya di Gramedia Pandanaran pada hari Sabtu siang. Ya...tahu sendiri lah, gimana Semarang ini untuk urusan bedah buku....:) Yang pasti, tidak seramai di Yogya, tetapi saya masih bersyukur bahwa dari peserta yang tidak banyak itu, masing-masing cukup antusias mengajukan pertanyaan. Kebetulan siang itu hujan cukup lebat di Semarang, sehingga mungkin saja faktor tersebut mempengaruhi jumlah peserta, karena secara umum pengunjung di Gramedia waktu itu tidak sebanyak biasanya. Acara berakhir sekitar jam 4 sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berpikir, penyelenggaraan acara semacam ini bisa nendang gak ya? Biaya penyelenggaraan sekitar 1,3 juta. Artinya, profit penjualan buku ini harus bisa mengganti cost tersebut. Saya tidak tahu apa bisa tercapai, karena dibutuhkan waktu untuk memantau hasilnya. Ya...mudah-mudahan saja lancar deh!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-2102733229004884959?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/2102733229004884959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=2102733229004884959' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/2102733229004884959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/2102733229004884959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/07/akhirnyabedah-buku-juga.html' title='Akhirnya...Bedah Buku Juga !'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SG2ncpq-BJI/AAAAAAAAAAc/2mRgwvnkl-Y/s72-c/101a.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-9104210246301309733</id><published>2008-07-02T21:18:00.006+07:00</published><updated>2008-07-06T07:08:30.184+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='entrepreneurship'/><title type='text'>Tips Bisnis Anti Ribet</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam postingan ini, saya akan memberikan tips berbisnis khususnya bagi pemula. Ya...biarpun saya bukan begawan bisnis senior, gini-gini saya juga sudah pernah memulai bisnis dan Alhamdulillah memperoleh banyak hal dari situ, salah satunya yang akan saya sharing di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips ini juga pernah saya sampaikan sekilas dalam siaran di Suara Sakti kemarin, menjawab pertanyaan pendengar mengenai bagaimana cara memulai usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pikirkan dan lakukan bagaimana caranya supaya bisnis mulai start. Dibilang sulit ya sulit, tapi nyatanya ada yang lebih sulit setelah tahap ini. Jadi anggap saja ini ujian pertama. Silahkan baca posting saya berjudul NEKAD IS JUST THE BEGINNING untuk pernak-pernik memulai bisnis. Yang jelas Anda butuh modal, baik finansial maupun non-finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bertahanlah. Statistik menyebutkan (meskipun saya sendiri tidak terlalu suka angka), bahwa bisnis-bisnis startup memerlukan waktu bertahan rata-rata 5 tahun. Jika itu sudah merupakan kabar buruk, maka kabar buruk berikutnya adalah rata-rata yang bisa bertahan dalam 5 tahun itu hanya 80%. Saya sendiri tidak tahu kebenarannya, tetapi dari pengalaman saya, fase bertahan inilah yang cukup membuat stress pemilik bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam masalah survival akan muncul di fase ini. Kesulitan cashflow? Di sinilah Anda akan diremek-remek sampai tidur nggak enak. Mulai ribet urusan karyawan? Anda akan mulai belajar mengelola SDM dan sistem perusahaan di fase ini. Pasar/order datang dan pergi? Di sinilah fase Anda mulai menemukan bentuk usaha Anda. Cari-cari supplier? Pada fase ini, Anda mulai berurusan dengan banyak rekanan/supplier.  Ibarat orang, pada fase ini adalah fase pencarian jati diri seseorang, ya...semacam remaja gitu lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, baru deh berpikir tentang branding dan selling secara lebih serius. Bukannya berarti hal ini diabaikan, karena yang namanya branding dan selling selalu harus berjalan mengikuti usaha Anda. Hanya saja, setelah fase bertahan lewat, umumnya perusahaan lebih kuat, tough, cashflow sudah enak, hubungan dengan supplier sudah lebih baik, dan sudah dikenal pasar. Di sini perusahaan mulai beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditarik garis merah, ternyata untuk usaha itu butuh pengorbanan waktu, minimal itu. Dalam proses pengorbanan waktu, tentu juga diiringi pengorbanan yang lain jika ingin bisnis tetap bertumbuh. Ya...saya jadi semakin paham bahwa bisnis pun tidak lepas dari hukum alam. Untuk bertumbuh memang harus melalui proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, di manakah posisi usaha Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-9104210246301309733?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/9104210246301309733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=9104210246301309733' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/9104210246301309733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/9104210246301309733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/07/tips-bisnis-anti-ribet.html' title='Tips Bisnis Anti Ribet'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-4322313150371193474</id><published>2008-07-02T20:23:00.004+07:00</published><updated>2008-07-02T21:16:28.481+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='entrepreneurship'/><title type='text'>Sistem Bisnis Jalan, Ownernya Jalan-Jalan.....Masa Iya Sih?</title><content type='html'>Bagi kalangan pengusaha, bisa mempunyai bisnis yang menghasilkan profit, kondisi aman terkendali tanpa harus ditongkrongin, tentulah menyenangkan. Supaya bisa seperti itu, bisnis harus punya sistem/SOP yang dijalankan oleh karyawan. Dengan demikian, owner tidak harus stay ngurusin bisnisnya all day long. Kalau kata Pak Budi Utoyo (owner Leha-Leha Day Spa), bisnisnya jalan, anda juga jalan-jalan. Para business coach yang lain juga menyampaikan hal yang senada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya BEDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Budi Utoyo jelas lebih yahud daripada saya (saya kenal baik dengan beliau). Para business coach pun juga pasti lebih pinter daripada saya. Tapi sekali lagi, terhadap pendapat bahwa bisnis harus bersistem supaya bisa ditinggal jalan-jalan ownernya, pendapat saya BEDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu bisnis memang harus punya sistem. HARUS. WAJIB. Saya sendiri juga bercita-cita bisa membuat sistem bisnis yang solid sehingga saya bisa meninggalkan bisnis saya dengan lebih leluasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha kalo gitu, apa bedanya dong dengan apa yang disampaikan di atas? Oke...ini bedanya : buatlah dulu sistem bisnis yang COCOK dan BISA DIJALANKAN di lingkup perusahaan Anda.&lt;br /&gt;Ada 2 kata kunci di sini :&lt;br /&gt;COCOK, berarti karyawan Anda minimal ngeh instruksi-instruksi dalam sistem. Tidak bijak memberi instruksi rumit kepada karyawan yang tingkat pendidikannya rendah. Sebaliknya, instruksi yang terlalu simpel jika diberikan kepada karyawan yang sarjana, tentu jadi tidak bisa memaksimalkan potensinya.&lt;br /&gt;BISA DIJALANKAN, berarti tersedia peralatan/infrastruktur supaya instruksi dalam sistem bisa dilaksanakan. Misalnya untuk keperluan pencatatan barang keluar, ya sediakanlah tetek-bengek supaya kalau barang keluar bisa dicatat dengan baik.&lt;br /&gt;Sedikit tambahan, sistem itu harus bisa membuat Anda nyaman. Maksudnya Anda harus memberikan tugas kepada orang-orang yang tepat. Bisa terjadi trial and error di sini, sehingga Anda mungkin harus memindahkan jabatan ke karyawan lain yang sekiranya lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sistem terumuskan, JANGAN CEPAT-CEPAT meninggalkan bisnis Anda mentang-mentang sudah ada sistem. Anda harus terlibat dulu di operasional perusahaan, terutama di masa-masa awal. Camkan hal ini baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena yang akan menjalankan sistem adalah karyawan Anda. Bukan Anda. Anda posisinya sebagai pengendali. Dan karyawan Anda tidaklah sama dengan Anda. Cara karyawan memandang suatu hal bisa jadi berbeda dengan Anda sebagai owner. Catat itu baik-baik.&lt;br /&gt;Misal : Anda membuat sistem yang mendukung efisiensi kerja dengan tujuan menekan biaya, tetapi bagaimana sistem itu berjalan jika mindset karyawan hanyalah "datang, bekerja, istirahat, pulang, terima gaji"? Mereka tidak pernah peduli efisiensi. Tidak peduli perusahaan untung atau rugi. Saya pernah mengalami hal itu. Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, adalah hal yang umum bahwa karyawan juga mencontoh pimpinannya. Kalau pimpinannya bersungguh-sungguh bekerja, karyawan biasanya juga akan rikuh kalau bermalas-malasan. Kalau pimpinannya strict soal hasil, umumnya karyawan akan lebih hati-hati bekerja. Begitu pun sebaliknya, dan saya pernah jatuh di lubang ini. Saya sempat kurang tegas menerapkan sistem yang saya buat sendiri, sehingga hasilnya karyawan saya juga bekerja seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda harus terus-menerus menunjukkan kepada karyawan bahwa ini lho, perusahaan ini punya sistem, dan saya juga melakukannya dengan sebaik-baiknya. Tambahkan juga pesan bahwa sistem ini tujuannya untuk meningkatkan profit perusahaan yang pada akhirnya kembali ke semua orang. Tambahkan bumbu ketegasan supaya para karyawan tahu bahwa you really mean it. Praktikkan reward and punishment, stick and carrot, atau apalah namanya, yang penting para karyawan ngeh bahwa jika mereka bekerja baik akan mendapatkan imbalan lebih, dan jika tidak baik, maka akan mendapat hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, jangan terburu-buru meninggalkan operasional bisnis Anda. Mantapkan dulu sistem yang cocok dan bisa dijalankan. Tekankan terus sistem tersebut ke karyawan sehingga menjadi budaya perusahaan, dan lambat laun operasional usaha bisa ditinggal oleh ownernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-4322313150371193474?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/4322313150371193474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=4322313150371193474' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4322313150371193474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4322313150371193474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/07/sistem-bisnis-jalan-ownernya-jalan.html' title='Sistem Bisnis Jalan, Ownernya Jalan-Jalan.....Masa Iya Sih?'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-4862659015965421084</id><published>2008-07-02T19:51:00.004+07:00</published><updated>2008-07-02T20:22:52.182+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='entrepreneurship'/><title type='text'>Carilah Pohon Emasmu Sendiri!</title><content type='html'>Satu ketika, seorang rekan TDA berkunjung ke rumah saya di suatu petang. Awalnya kami hanya ketemu via YM, dan baru pada petang itu kami bertatap muka langsung. Setelah berkenalan, kami pun saling bertukar cerita. Rupanya teman saya ini usahanya cukup banyak, tapi rata-rata masih dalam tahap rintisan (menurut saya lho), sehingga belum menghasilkan return yang menggiurkan. Saya amati dari ceritanya, beliau ini masih pingin buka usaha ini-itu. Saya manggut-manggut saja. Setelah selesai bercerita, saya pun sharing ke beliau mengenai pendapat saya mengenai membuka berbagai macam usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah seseorang mencoba buka berbagai usaha. Bener kok, ga ada salahnya. Saya juga pernah begitu. Dan bagi yang doyan buka macam-macam usaha, lantas usaha-usahanya 80% saja bisa bertahan dan berkembang, wah itu pastilah pengusaha yang sudah matang dan mapan. Jarang ada yang bisa seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akui, saya tidak bisa seperti itu. Saya jenis orang yang hanya bisa fokus pada sedikit usaha. Dan saya yakin, tipe orang seperti ini juga banyak. Permasalahannya adalah : apa usaha yang cocok dikelola? Kan usaha ada banyak jenis, tapi bagi orang-orang yang hanya bisa handle 1-2 usaha alias butuh fokus, bagaimana cara menentukan usaha yang cocok ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban saya : temukan pohon emasmu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita membuka usaha, bisa diibaratkan kita menyemai bibit pohon. Kita harus merawat dengan baik supaya bibit itu tumbuh menjadi tunas, dan lama-lama menjadi pohon. Tetapi seringkali sebelum menjadi pohon, tunas kita mati. Entah karena kita yang memusnahkan, atau karena tidak sanggup bertumbuh. Kita memusnahkan tunas bisnis umumnya jika kita pada tahap-tahap awal merasa kurang sreg dengan bisnis tersebut. Ga ada nafsu, ga ada gairah untuk memperjuangkannya. Jadi mending matikan saja, alias usahanya ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, saya yakin pada suatu ketika kita akan menemukan tunas bisnis yang membuat kita mencintainya. Bagaimana kita tahu? Perasaan kita lah yang akan berbicara. Kita jadi menyatu dengan bisnis tersebut. Kita rela untuk berjuang susah payah membesarkan tunas tersebut menjadi pohon bisnis yang kokoh. Jika sudah demikian, tentu kita tidak ingin mematikan tunas tersebut. Justru kita akan berupaya supaya ia bertumbuh. Harap diingat, tunas yang tumbuh menjadi pohon memerlukan zat-zat makanan yang lebih, dan penanganan lebih. Di situlah peran kita diperlukan untuk mengelola dan mengembangkan tunas bisnis menjadi pohon yang kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, kita tidak selalu bisa mendapatkan benih pohon emas kita dari orang lain. Dengan kata lain, bisnis orang lain belum tentu cocok untuk kita, vice versa. Berarti, kita harus siap melakukan trial and error, buka tutup usaha lain sebelum menemukan usaha yang cocok untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bisa bangga terhadap bisnis kita, bisa jadi itulah pohon emas kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-4862659015965421084?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/4862659015965421084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=4862659015965421084' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4862659015965421084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4862659015965421084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/07/carilah-pohon-emasmu-sendiri.html' title='Carilah Pohon Emasmu Sendiri!'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-834125694038226995</id><published>2008-07-02T15:29:00.008+07:00</published><updated>2008-07-02T19:50:21.682+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='entrepreneurship'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self-reflection'/><title type='text'>Berhati-hati Menata Hati</title><content type='html'>Awal saya berwirausaha yang akhirnya gagal sentosa adalah usaha warnet dan game center. Pada saat itu saya berpikir jadi pengusaha itu enak, duitnya banyak, hidup nikmat. Ya namanya pemikiran anak muda lah (sekarang juga masih muda kok). Padahal sampai sekarang hal seperti itu belum bisa tercapai (setidaknya menurut standar umum). Yang saya dapat adalah hal lain. Apa itu? Jawabnya adalah : seni menata hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho? Kok bisa ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jelasin ya...yang namanya usaha itu pasti ketemu masalah dulu sebelum ketemu duitnya. Tanya deh sama yang lebih senior, pasti mengiyakan. Setelah mengatasi masalah, dapet duitnya, belum tentu bisa dinikmati. Pastilah duit itu diputar lagi, alhasil kita jadi tidak pegang duit lagi deh. Begitu diputar, mau dapet duit lagi, eh ketemu lagi masalah lain, setelah teratasi baru duitnya kembali dengan hasil yang lebih besar. Untung? Oho..belum tentu. Selalu ada peluang untung dan rugi pada setiap jengkal transaksi. Kalau untung, maka uang hasil diputar itu memberi hasil lebih, tapi kalau rugi, ya jadi berkurang. Lantas setelah itu, apakah masalah selesai? Tentu saja tidak....dan kabar buruknya (atau kabar baik?), hal seperti ini akan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja masalah yang umum dihadapi ? Kurang lebih ini dia : cashflow, produksi, karyawan, pasar. Konon 4 "binatang" inilah sumber kepusingan para pengusaha. Termasuk saya. Keempat-empatnya saya pernah mengalami, secara bergiliran ataupun bersamaan. Kalau pas masalah tersebut datang berbarengan, wow.....wow....nyut nyut sampai 7 hari 7 malam......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusing? Pasti&lt;br /&gt;Sebel? Tentu&lt;br /&gt;Stress ? Ya iya lah, masa ya iya dong :)&lt;br /&gt;Mau bunuh diri? NGGAK LAH YA !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari real problems inilah saya belajar bagaimana menyikapi banyak hal dalam hidup. Semakin lama saya semakin sadar bahwa kita ini sebenarnya bukan apa-apa. Totally nothing. Kita ini tidak bisa apa-apa kalau tidak ada tenaga yang membantu mengatasi masalah. Dalam hal ini, saya mencari pertolongan ke Tuhan saya. Saya bayangkan, jika Tuhan bisa menciptakan alam semesta dan mengaturnya, apalah arti saya ini di mata Tuhan. Cuma seupil....nggak, sepersekian nano-mili upil semut (ada yang pernah lihat semut ngupil?). Jadi kalau Tuhan berkenan mengangkat masalah kita, really really not a big deal for Him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, apakah kita sudah dengan sadar meminta kepada Tuhan? Dari pengalaman saya, kalau saya minta ke Tuhan supaya masalahnya dibantu, rejeki dilancarkan, biasanya Tuhan nggak langsung ngasih yang diminta. Tuhan biasanya menguji dulu sampai di mana keteguhan kita (istiqomah). Bukannya masalah diringankan, malah ditambahi masalah. Ibaratnya kita sudah terpojok, malah dijedotin lagi ke tembok oleh Tuhan. Keras lagi. Ampun-ampunan deh rasanya. Bonyok hati dan otak ini rasanya. Sering saya pulang ke rumah dengan muka bertekuk-tekuk saking betenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, kita harus bagaimana? Mengutuk Tuhan? Marah-marah ke Tuhan? Gila kali ya kalo sampai gitu.....Daripada begitu, saya mencoba menata hati. Saya yakinkan bahwa ini cara Tuhan untuk membuat saya lebih dari pasrah kepada-Nya. Semua upaya sudah dilakukan, tapi jika jalan keluar belum ada, dan sangat-sangat perlu divine intervention (campur tangan Tuhan), maka serahkan semua pada Dia. Tapi harap diingat, dalam kepasrahan itu, kita tetap harus berbaik sangka kepada-Nya. Kita harus yakin bahwa Tuhan akan menolong kita. Kita tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya gampang ya? Apalagi cuma ngomong doang ? Saya jawab : TIDAK GAMPANG, dan saya tidak hanya sekedar ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik ini, usaha saya sedang mengalami masalah bertumpuk-tumpuk. Bete rasanya. Upaya sudah dijalankan, berdoa juga sudah, tapi titik terang belum tampak. Pada titik ini pula, saya mencoba supaya hati saya lebih sadar untuk lebih pasrah kepada-Nya. Saya hanya perlu menata hati, mengingat bahwa di masa-masa lalu, saat saya sedang mengalami masalah, saya juga mengatasi dengan cara yang sama dengan yang dilakukan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya perlu menata hati dengan berhati-hati, supaya tidak terjebak ke buruk sangka dan putus asa. Saya hanya perlu menata hati supaya hati saya berlandaskan iman, yakin bahwa Tuhan pasti menolong saya. Saya hanya perlu menata hati supaya tidak roboh diterpa angin keraguan. Saya hanya harus menata hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya pernah mengalaminya, dan hasilnya saya selalu ditolong, maka kali ini pun pasti bisa seperti itu. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pembaca yang sedang dalam masalah, mudah-mudahan posting saya ini bisa ikut mencerahkan dan meringankan. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-834125694038226995?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/834125694038226995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=834125694038226995' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/834125694038226995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/834125694038226995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/07/berhati-hati-menata-hati.html' title='Berhati-hati Menata Hati'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-2894679319405814896</id><published>2008-05-26T07:12:00.004+07:00</published><updated>2008-05-26T07:21:00.497+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='technology'/><title type='text'>MASA DEPAN BUKU (tanggapan atas opini Sdr. Steven Haryanto di sebuah majalah IT)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat saya membaca kolom yang ditulis Sdr. Steven Haryanto di sebuah majalah komputer dengan judul yang sama dengan postingan ini, ada sesuatu yang menggelitik di hati. Inti dari tulisan tersebut adalah Sdr. Steven mencoba meramal bahwa masa depan buku konvensional akan tergantikan oleh e-book, entah berapa lama lagi. Alasan-alasan yang disampaikan cukup masuk akal, mulai dari sisi dimensi, hingga sisi fitur, e-book lebih unggul daripada buku konvensional. Sampai di sini, jika pemahaman saya terhadap makna tulisan Bung Steven (saya manggilnya 'Bung' saja ya, biar lebih luwes) benar, silahkan baca lanjutan postingan saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Steven, yang Anda sampaikan memang benar. Ijinkan saya memberikan beberapa pandangan lain mengenai masa depan buku. Saya tidak mencoba menjadi seorang futuris. Saya bisa saja benar, bisa saja salah mengenai masa depan, dan Anda pun dalam posisi yang sama. Kita tidak pernah akan tahu bagaimana masa depan sampai kita mengalaminya sendiri. Jadi, postingan ini tidak bermaksud meng-counter pendapat Anda. Saya tidak ingin berdebat. Untuk apa berdebat mempermasalahkan masa depan yang kita (pada detik ini) tidak tahu bagaimana cara membuktikannya? Jadi, saya harap Bung Steven bisa menikmati postingan ini dan&lt;br /&gt;menangkap spirit saya untuk sekedar berbagi pandangan (bukan untuk adu pinter hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti Anda, saya juga penikmat buku. Saya juga orang IT meskipun sekarang pekerjaan saya tidak di lingkup IT secara langsung. Mengenai masa depan buku, saya sih berharap mudah-mudahan buku konvensional tidak akan musnah tergantikan oleh e-book. Selain itu, akan dibutuhkan waktu yang sangat lama jikalau hal itu pun terjadi. Mengapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah pasar. Saya tidak punya data angka penjualan buku konvensional dan e-book. Jujur, saya tidak tertarik dengan angka-angka. Yang saya tahu dan amati adalah buku konvensional dan e-book masing-masing memiliki pasar sendiri-sendiri. Akankah terjadi penggerogotan satu pasar oleh pasar yang lain? Mungkin saja. Dua-duanya kan jualan isi buku. Tetapi secara historis, pasar buku konvensional sudah terbentuk jauh lebih lama dan lebih solid dibandingkan pasar e-book. Jika diasumsikan kelahiran pasar buku konvensional dimulai sejak ditemukan mesin cetak, maka buku konvensional sudah melewati masa puluhan hingga mungkin ratusan tahun (kebetulan saya lupa tahun ditemukannya mesin cetak pertama kali dan siapa nama penemunya). Sedangkan setahu saya, e-book usianya belum setua itu deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, apakah e-book dengan kemajuan teknologinya akan bisa merevolusi buku konvensional? Sudah banyak bukti bahwa teknologi bisa mengubah banyak hal bahkan secara radikal, tetapi tidak selamanya bisa begitu (makanya biarpun sudah ada mesin debit di supermarket, orang masih tetap perlu bawa cash in case mesin debit dial ke bank-nya lama hehehe). Itu tergantung dari sejauh mana kepentingan manusia (konsumen) bisa terakomodasi dengan teknologi tersebut, dan apakah mereka bersedia membayarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus ini, saya melihat pasar buku konvensional bentuknya lebih solid, artinya sudah banyak kepentingan yang terlayani di situ. Ada banyak pemain di bisnis ini. Sebagai pasar, tentu ada produsen/penjual dan pembeli. Model bisnisnya pun juga sudah solid. Pemain-pemainnya adalah penulis, penerbit, percetakan, distributor/agen/toko, dan konsumen. Penulis membuat naskah, diambil penerbit, dibuat oleh percetakan, disebar lewat distributor/agen/toko dan dibeli oleh konsumen. Jelas sudah terbukti bertahun-tahun ada uang berputar di situ. Seiring perkembangan jaman, ternyata kok ya pemain-pemainnya masih itu-itu juga. Model bisnisnya juga masih begitu-begitu saja. Yang berubah paling-paling teknologi untuk memproduksi hingga mendeliver, tapi produknya ya masih tetap sama : buku konvensional. Saya berani bicara begini karena saya juga praktisi di percetakan dan penerbitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak beralih memproduksi e-book? Dugaan saya, akan banyak yang hilang (uang) jika model bisnisnya berubah. Akan terjadi disrupsi yang destruktif. Yang pasti, bisnis percetakan dan distributor/agen akan hilang. Penerbit pun harus mengubah model bisnisnya. Secara teori, menghilangkan mata rantai penjualan bisa meningkatkan laba dan efisiensi, akan tetapi secara praktik (minimal dari pengalaman saya), bisnis itu seperti kehidupan yang membutuhkan sinergi dan kolaborasi dengan pihak lain. Hilangnya satu titik bisa mengakibatkan kerugian secara agregat pada pasar/bisnis tersebut. Dari sisi konsumen juga mungkin harus mengubah cara mengkonsumsi produk. Sudah terlalu lama konsumen terbiasa mengkonsumsi buku&lt;br /&gt;konvensional dan sudah merasa nyaman dengan cara itu. Kalau begitu, mengapa harus repot-repot berubah?&lt;br /&gt;Jadi, pasar/sistem bisnis buku konvensional bisa dibilang sudah menemukan jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah selera/emosional (psikologis). Berbicara fakta, kita lebih dulu dikenalkan dengan buku konvensional sebelum berkenalan dengan e-book. Contohnya, saat kita mulai sekolah TK, kita membawa buku menggambar, belajar membaca, dsb. Baru pada fase berikutnya kita bisa mengenal e-book. Kelihatan sepele ya, tapi ini membuat pola kebiasaan (ketergantungan) terhadap buku konvensional dari kecil. Tentu saja bisa terjadi konversi preferensi ke e-book daripada buku konvensional. Biasanya itu dipicu karena tuntutan pekerjaan atau profesi. Akan tetapi saya yakin, banyak di antara kita yang masih punya mindset "belum baca buku kalo belum membaca tulisan di kertas yang dijilid". Sama halnya dengan orang Indonesia merasa belum makan kalo belum makan nasi (termasuk saya!). Padahal kenyataannya ya nggak gitu juga. Orang baca e-book juga dapat ilmu yang sama dengan buku konvensional. Orang makan roti juga bisa sama kenyangnya dengan makan nasi. Pendapat saya, ini adalah masalah selera yang terbentuk dari pola sehingga tertanam ke emosi kita.&lt;br /&gt;Mungkin akan lain ceritanya kalau dari awal kita sudah diperkenalkan dengan e-book...who knows?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, konsumen adalah orang yang butuh disentuh emosinya. Selain faktor kebiasaan bahwa baca buku ya artinya baca "kertas isi tulisan yang dijilid", pemasaran buku sekarang mulai menyentuh unsur emosi konsumennya. Saya bilang, itu hal yang kreatif. Hari gini memasarkan barang, sebisa mungkin dengan cara menyentuh emosi konsumen sehingga bisa terlihat berbeda. Seperti Starbucks yang bisa memberikan perasaan to see and be seen saat kita menyeruput kopi di outletnya (sehingga kita dipersepsikan orang modern gaul), begitu pun buku konvensional. Umumnya konsumen membeli buku karena isinya. Jika hanya karena itu, maka e-book tentu bisa menjadi alternatif yang lebih praktis (tetapi belum tentu lebih murah lho!). Akan tetapi dari pengamatan dan pengalaman saya, konsumen beli buku bisa jadi karena "kehadiran" buku tersebut. Alasan yang mendasari bisa beraneka ragam. Bisa jadi karena bentuknya unik, atau karena ia seorang kolektor buku, atau bisa juga dengan memiliki buku tertentu bisa membentuk/meningkatkan citra diri. Rasanya ada yang kurang kalau belum bisa memiliki buku konvensional yang diinginkan. Jangan lupa faktor experience baik dalam memperoleh buku, ataupun saat membaca dan memilikinya. Meskipun bukan penggemar Harry Potter, tetapi saya yakin pembaca setianya merasakan sensasi tersendiri saat buku Harry  Potter terakhir akan dilaunching. Berharap-harap datangnya hari H, ditambah bumbu kekhawatiran kehabisan stok atau telat pesan. Pada dasarnya itu adalah thrill pemasaran yang bisa memberikan experience tersendiri kepada konsumennya. Produknya ? Ya buku konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya kembali pada aspek emosional. Ada unsur emosional konsumen yang saat ini hanya bisa diraih oleh buku konvensional dibandingkan e-book. Mungkin kelak jika ada yang berhasil memasarkan e-book dengan cara menyentuh emosi konsumennya, tentu fenomena persaingan buku konvensional dan e-book akan lebih menarik untuk disimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga adalah aksesibilitas. Ini berkaitan dengan infrastruktur juga sih. Pada saat ini untuk membaca e-book diperlukan device (PC, laptop, e-book reader, PDA). Diperlukan juga pengetahuan cara menggunakan device tersebut supaya e-booknya bisa dibaca. Artinya jangkauan konsumen e-book saat ini masih terbatas pada konsumen yang memiliki akses dan pengetahuan untuk bisa membaca e-booknya. Bayangkan, baru mau membaca e-booknya saja konsumen sudah direpotkan dengan berbagai hal. Bandingkan dengan buku konvensional. Tinggal ambil, dan buka halamannya. Semua bisa melakukan. Mudah, tidak repot (duh....kok seperti iklan operator seluler ya?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, ini intermezzo saja. Buku konvensional ke depan masih akan laku karena setahu saya outlet toko jaringan toko buku Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas kok tambah banyak saja ya, begitupun dengan penerbit buku khususnya tema IT, nambah satu pemain deh, yaitu Neomedia Press alias perusahaan saya hehehehehe.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi itulah opini saya Bung Steven. Jika berkesan saya memojokkan e-book, perlu saya tegaskan tidak seperti itu. Bung Steven sudah memaparkan kelebihan e-book di tulisan Anda, jadi tidak perlu saya ulang lagi kelebihan-kelebihan e-book dibanding buku konvensional. Sekali lagi, postingan saya ini untuk memperkaya pemikiran kita bersama kok. Itu saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-2894679319405814896?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/2894679319405814896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=2894679319405814896' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/2894679319405814896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/2894679319405814896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/05/masa-depan-buku-tanggapan-atas-opini.html' title='MASA DEPAN BUKU (tanggapan atas opini Sdr. Steven Haryanto di sebuah majalah IT)'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-5766540804973578745</id><published>2008-05-24T17:08:00.002+07:00</published><updated>2008-05-24T17:14:16.089+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>RAHASIA HARI PERNIKAHAN</title><content type='html'>Sebetulnya saya sudah lama ingin menulis postingan ini. Ini adalah rahasia yang terpendam selama beratus-ratus hari....rahasia yang tabu untuk diungkap ke sembarang orang. Hanya orang-orang yang bisa akses ke blog inilah yang bisa mengetahui rahasia terlarang ini....(halahhh :D)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mungkin belum tahu, i'm already married, a good husband, good father, and a good lover (ehemm). Saya menikah tahun 2006, tepatnya 8 Januari. Waktu itu hari Minggu. Paginya akad nikah di tempat mempelai wanita, malamnya langsung genjot (resepsi maksudnya....) di Gedung DPRD Ungaran. Biar sekalian beres urusan. Kebetulan tempat resepsi tinggal nyeberang jalan dari rumah mempelai wanita. Jadi deh pengantinnya menuju ke gedung cuman jalan kaki nyeberang jalan sambil menyingsingkan kain........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya enggak lah....!!&lt;br /&gt;Kami menaiki mobil VW kodok warna oranye untuk menyeberang dari rumah ke gedung resepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup pendahuluannya. Saya hanya ingin cerita tentang "perjuangan" menentukan tanggal pernikahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang Jawa, sudah umum jika penentuan tanggal pernikahan melalui "perhitungan klasik". Sekedar info bagi non-Jawa, "perhitungan klasik" adalah perhitungan hari baik untuk suatu acara dengan mengkombinasikan hari dan atau tanggal kelahiran yang bersangkutan, diutak-atik dengan rumus tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya ditanya hari apa saya lahir. Hmmm...bingung harus jawab apa. Saya pernah diberitahu ibu saya bahwa saya lahir hari Minggu, tapi ragu-ragu juga. Kemudian coba memastikan dengan komputer, kan ada tuh di Windows, akses saja menu Start - Control Panel - Date and Time. Di situ ada kalender, tapi ternyata hanya bisa sampai tahun 1980. Padahal saya lahir sebelum itu. Habis akal? Oho...tidak lah! Ini hanya masalah matematika semata. Saya coba membuat rumus dengan induksi matematika untuk menghitung hari kelahiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah utak-atik, ternyata kelahiran saya hari Rabu. Okelah, setelah itu beberapa hari kemudian saya lapor ke calon ibu mertua bahwa saya lahir hari Rabu. Pas itu memang janjian dengan orang yang akan menghitung hari baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dimulailah penghitungan hari baik&lt;br /&gt;Wes hewes hewes hewes...&lt;br /&gt;Was wes wos....&lt;br /&gt;Coret sana coret sini...&lt;br /&gt;Tambahkan X dengan diferensial Y....&lt;br /&gt;JADILAH !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah ditentukan hari pernikahan kami hari RABU. Ya. Hari RABU. Absolutely weekday. Saya sama calon istri cuma berpandangan. Sebenernya kami sama-sama menginginkan hari Sabtu atau Minggu, biar tamu undangan banyak yang datang (begitupun angpau-nya hehehe). Waktu itu mencoba nego apa mungkin dipindah ke hari Sabtu/Minggu, ternyata dijawab nggak boleh. Kuwalat ntar, katanya. Karena ingin mencitrakan diri sebagai calon menantu yang baik, saya manggut-manggut saja dan pamitan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng saya bertanya ke calon, memang dari mana kok bisa hari Rabu? Ternyata itu hasil utak-atik hari kelahiran saya dan istri, hanya saja lebih dominan saya. Artinya, seandainya saya lahirnya hari Minggu, maka perhitungan akan jatuh pada hari Minggu. Sebetulnya calon saya waktu itu juga agak stress karena keputusan harus nikah hari Rabu itu. Saya pun juga berpikir apa ya bisa efektif kalo akad nikah dan resepsi hari Rabu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng lagi, saya nanya ke ibu saya dulu saya lahir hari apa.&lt;br /&gt;"Dulu saya lahir hari apa Bu ?"&lt;br /&gt;"Minggu", Ibu saya menjawab singkat.&lt;br /&gt;Saya mengangkat alis.&lt;br /&gt;"Minggu?", saya malah balik bertanya, "nggak salah ?"&lt;br /&gt;"Iya, HARI MINGGU", Ibu menegaskan.&lt;br /&gt;Out of question.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tambah bingung. Iseng-iseng saya cari surat kelahiran, di situ memang tertulis hari Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lah...masa sih rumus saya salah? Seandainya terjadi deviasi perhitungan, paling maju-mundurnya 1 hari. Jika perhitungan saya salah, paling tidak saya lahir hari Selasa atau Kamis lah. Kalo sampai Minggu, jauh banget deviasinya. Alhasil, dugaan saya ada 2 : saya salah rumus (kayaknya nggak mungkin deh, gini-gini IP saya dulu 3.42 hehehe), atau Ibu/pencatat surat kelahiran saya blank soal hari. Kan nggak mungkin orang habis melahirkan langsung lapor, pasti ada jeda beberapa hari baru sempat lapor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, saya jadi berpikir begini : seandainya saya lahir hari Rabu pun, Ibu meyakini saya lahir hari Minggu. Seandainya saya tetap lahir hari Rabu pun, gak salah dong kalo saya bilang ke calon mertua bahwa hari lahir saya hari Minggu? Kan yang penting apa yang diyakini orang tua saya, lha wong ibu saya yang melahirkan saya, masa dilawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, akhirnya jadilah saya maju lagi, merevisi (memanipulasi) hari kelahiran saya yang semula hari Rabu menjadi hari Minggu. Untung revisinya diterima, dan dilakukan perhitungan ulang yang akhirnya membuat hari pernikahan kami menjadi hari MINGGU !!! Sebetulnya pingin hari Sabtu, tapi sudah cukup lah, masa mau manipulasi lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, pernikahan berjalan lancar di hari Minggu, 8 Januari 2006. That's the end of this story...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-5766540804973578745?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/5766540804973578745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=5766540804973578745' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/5766540804973578745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/5766540804973578745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/05/rahasia-hari-pernikahan.html' title='RAHASIA HARI PERNIKAHAN'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-4439835303734867043</id><published>2008-05-22T10:25:00.002+07:00</published><updated>2008-05-22T10:31:18.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='self-reflection'/><title type='text'>TUHAN SAJA SENANG BERCANDA</title><content type='html'>Ini kisah yang terjadi pada 7 Mei 08. Dari kemarin pembantu pulang ke kampung ada urusan keluarga, sehingga praktis hari ini saya berangkat kantor tidak bisa pagi, sementara dua hari sebelumnya praktis saya nggak ngantor karena harus ngajar kuliah di Undip (jadi dosen tamu nih ceritanya). Ya sudah pagi-pagi saya kerja di rumah, buka laptop, mendesain cover untuk buku Neomedia yang baru berjudul BLACKBOOK : Jurus Menembus Blokir Situs. Ini adalah calon buku fenomenal yang akan membeberkan cara menembus situs internet yang diblokir (ngiklan dikit ye... :D). Tentu diiringi membantu istri yang kerepotan ngurusin Tsani, puteri mbarep saya yang baru 15 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas asyik kerja, tiba-tiba HP berbunyi dari kantor. Ternyata kepala produksi saya, melaporkan, intinya adalah pas mau garap satu order, ternyata kertas yang sudah dibeli SALAH UKURAN!! Sebagai informasi, kertas yang saya butuhkan adalah ukuran 79x109 cm, tapi stok yang ada ukuran 65x100 cm. Orang percetakan pasti ngerti lah, kalo sudah gitu dunia kayak runtuh deh. Bukan durian runtuh lho ya, itu sih runtuh yang enak...heheheh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya kok bisa gitu, dan saya minta pertanggungjawabannya. Bla bla bla bla.....dia menjelaskan yang pada akhirnya adalah saya tidak bisa menerima alasan tersebut. Saya mulai merasa marah. Padahal waktu itu dia yang ngitung kebutuhan kertasnya, kok malah jadinya berantakan gini. Saya bilang bahwa hal ini akan dibahas di kantor dan saya tidak terima atas penjelasannya, tentu dengan nada dingin. Waktu itu saya berpikir harus beli kertas pengganti (kertas yang bener tentunya), mana cashflow lagi sereeeet....ret..ret..ret. Ya sudahlah, hadapi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mandi, sarapan, dan shalat Dhuha, ternyata saya tidak menjadi lebih tenang. Pasrah sih pasrah, tapi tetep namanya manusia itu lemah hati...ya tetep saja gak tenang :(&lt;br /&gt;Setelah sampai kantor, iseng-iseng saya lihat dulu data pembukuannya, ternyata tercatat di situ, untuk order yang bermasalah, ternyata saya beli kertas yang benar, yaitu ukuran 79x109...tapi kok stoknya ukuran 65x100? Wheladalah....mulai deh session repot. Saya lalu telpon toko kertas tempat dulu saya beli kertasnya, ternyata...ternyata...oh ternyata....memang SALAH BELI !!! Padahal perasaan waktu itu saya sudah ngomong ukuran 79x109 tapi kok hasilnya 65x100 ya ? Pegawai toko kertasnya yang waktu itu salah catet atau saya yang salah omong ya? Tapi memangnya beli kertas itu pakai perasaan ya...? Bukannya pakai duit... ? :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil....akhirnya saya menyalahkan diri saya sendiri. Padahal paginya saya ngomel-ngomel ke istri (bukan ngomelin istri loh..beda tuh..) bahwa saya paling tidak suka jika ada orang lain, terutama karyawan saya, jika ada kesalahan, justru menimpakan kesalahan ke pihak lain baik benda hidup atau benda mati, bukannya meminta maaf kalau-kalau kesalahan justru di pihak dia. Seandainya kesalahan bukan karena dia, saya akan lebih respek jika orang meminta maaf terlebih dahulu sebelum menjelaskan duduk perkaranya. Gawatnya, pagi itu sebelum ke kantor mindset saya sudah menuduh kepala produksinya yang tidak becus. Dia yang bersalah, tapi kok malah tidak ngaku salah. Bikin sebel deh.&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya bertolak belakang, malah ternyata kemungkinan saya yang salah. Hmm...tengsin deh. Itu pasti. Kabar baiknya adalah toko kertasnya mau diajak tukar tambah kertas. Pada akhirnya saya tetap saja nombok, tapi tidak apalah, daripada harus beli yang baru dan yang lama jadi stok nganggur. Perihal tukar tambah saja istri saya yang ngingetin. Kalau tidak diingetin, pasti saya sudah order kertas baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, daripada saya bilang bahwa Tuhan menegur, lebih baik saya katakan bahwa Tuhan sedang mengajak bercanda. Bercanda yang bijak. Tuhan "bermain" dengan saya dengan harapan bahwa bagaimanapun juga saya harus sadar untuk tetap berkepala dingin untuk menghadapi berbagai masalah. Jangan langsung naik pitam, membabi buta. Saya tetap bersyukur karena sudah diajak bercanda oleh Tuhan..lha daripada dijewer dan diazab ?? Kalau diazab kan bisa nangis darah tuh...tapi kalau dibecandain Tuhan, ya paling kita tersenyum kecut, gondok-gondok dikit...tapi apa ya berani ngegondokin Tuhan ?? Bisa-bisa dijewer beneran kita :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau Tuhan saja senang bercanda, bagaimana dengan kita...? Hidup bercanda !!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-4439835303734867043?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/4439835303734867043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=4439835303734867043' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4439835303734867043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4439835303734867043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/05/tuhan-saja-senang-bercanda.html' title='TUHAN SAJA SENANG BERCANDA'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-4518880334597481254</id><published>2008-05-22T10:04:00.002+07:00</published><updated>2008-05-22T10:16:30.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='entrepreneurship'/><title type='text'>NDHABLEG (KERAS KEPALA) IS THE NEXT THING....</title><content type='html'>Pada tulisan pertama saya, kita baru sedikit ngobrol tentang bagaimana cara buka usaha. Pada kasus usaha-usaha saya, beberapa usaha saya mulai dengan persentase nekad lebih besar, beberapa hal lain dengan persentase perhitungan yg lebih besar. Jadi mudah2an cukup seimbang. Tapi sejauh ini lebih besar prosentase nekadnya kok hehehe...1024 x (saya akan cerita hal ini lain kali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari pengalaman saya, yang saya yakin 100% juga diamini oleh para pebisnis yg lebih senior, bahwa yang patut diperhatikan adalah langkah/tahap SETELAH buka usaha. Bagaimana cara kita mengoperasikan usaha kita memang mungkin tergantung pada cara kita buka usaha. Kalo dengan cara nekad, kemungkinan besar kita akan srudak-sruduk grabak-grubuk sana-sini mengelolanya. Ya maklumlah, namanya juga diawali dengan nekad. Persiapan serba seadanya, atau bahkan minim. Pada saat saya buka usaha penerbitan buku (Neomedia), modal saya cuman pengetahuan teknis cetak buku. Mengenai pemasaran? Ohoo...jangan ditanya...saya 100% blank! ISBN ? Wah...binatang apa tuh ? Saya nggak tahu lho cara ngurus ISBN. Pemasaran? Distributor? Au ah 'elap.....Soal modal? Modal dengkul! Itu saja pinjam dengkul orang hehe...128x Beruntung partner saya menguasai hal-hal yang saya blank-blank tersebut. Itulah satu-satunya perhitungan saya saat buka usaha penerbitan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya kalo buka usaha setelah didahului perhitungan, biasanya lebih terprediksi kegiatan pasca buka usaha. Sehingga operasional usaha berjalan lebih teratur. Ya wajarlah, kan sebelumnya sudah cek dan ricek sana-sini sebelum buka usaha. Ini juga hal yang bagus kok. Salah satunya, di mata pelanggan/calon pelanggan, minimal usaha kita dinilai lebih kredibel, lebih "mbejaji" (layak), dengan demikian, pelanggan akan percaya kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, stlh buka usaha, operasional mulai jalan, selanjutnya apa? Jawabnya ada di judul tulisan ini : NDHABLEG! Lho, kok bisa? Ya bisa dong. Sebabnya adalah sebelum menghasilkan uang secara nyata, kita pasti akan dihadang oleh MASALAH. Itu PASTI. Bagi yang sudah mengalaminya, mari kita memejamkan mata, bernostalgia ke masa2 awal buka usaha :) Dulu saat memulai bisnis percetakan, saya harus ikhlas menghadapi kenyataan nan keji bahwa 5000 buku orderan pertama saya DITOLAK! 5000 buku...bayangkan!! Waktu saya buka warung ayam penyet di Tembalang, saya harus ikhlas menghadapi bahwa tiang penyangga warung PATAH diterpa angin pada hari pertama buka! Saat buka warnet dan game center pertama, saya harus terima kenyataan bahwa lokasi usaha saya dihuni demit wanita yang sempat membuat pelanggan saya lari terbirit-birit (swear!!)...dan masiiiiiih banyak lagi. Saya yakin teman-teman pasti punya kenangan-kenangan nan unik saat awal-awal buka usaha...monggo dishare saja, pasti bisa jadi pembelajaran buat rekan2 lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ndhableg alias keras kepala memang dibutuhkan saat kita menghadapi masalah. Di situlah kita diuji seberapa kendhablegan kita. Di situ pula kita diuji passion kita terhadap bisnis tersebut. Bagi yang menganggap bisnisnya hanya coba-coba dan tidak ada passion, dijamin pasti nggak ndhableg dan usahanya kemungkinan besar akan berhenti. Sedangkan bagi yang mempertaruhkan hidup matinya pada bisnis tersebut, umumnya lebih ndhableg dan mencoba bertahan sambil mencari solusi. Hal ini kembali pada belief dan dream masing2. Seberapa jauh, seberapa dalam, seberapa mengakarkah keyakinan dan cita-cita kita pada bisnis tsb? Ini kembali pada diri kita, hati kita, inner voice kita. Tidak masalah jika kita tidak memiliki passion atau keyakinan yang mendalam terhadap bisnis yang sedang bermasalah tsb. Mungkin itu bukan jalan rejeki kita. Segera cari yang lain. Hal ini lebih baik daripada jika kita memaksakan diri mempertahankan bisnis yang kita menjalankannya tidak enjoy. Anggaplah hal tersebut sebagai proses/perjalanan kita menemukan jalan bisnis yang memang tepat utk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya jika kita yakin bahwa bisnis inilah jalan hidup kita, yakin bahwa bisnis inilah yang akan membawa kita menuju kesuksesan, maka secara otomatis, kita akan mendapatkan kekuatan utk bertahan dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Kita akan ndhableg, keras kepala, tidak mau menyerah terhadap masalah yang dihadapi. Dan memang seperti itu, karena kita butuh ndhableg supaya masalah bisa teratasi. Hal ini baru bisa saya resapi setelah saya buka tutup beberapa usaha. Pada akhirnya saya menyadari bhw belief dan dream saya ada pada 2 usaha yg sdg saya perjuangkan hingga sekarang : percetakan dan penerbitan buku. Sampai detik ini, usaha-usaha saya itu belum apa-apa, meskipun sudah banyak masalah yang saya hadapi. Ke depan pun pasti ada masalah. Tapi tidak apa, yang penting saya sudah menemukan jalur bisnis saya (insya Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi rekan-rekan yang bisnisnya sedang menghadapi masalah, sadarilah bahwa masalah itu pasti akan selalu ada. Mungkin 80% hidup sebagai pengusaha adalah masalah. Sisa 20%-nya adalah menikmati hasil usaha. Persentasenya gak imbang ya....Tapi jika 20% itu bisa membilas segala letih dan luka kita saat menghadapi 80%, bersediakah Anda menempuhnya? Jika iya, maka kemungkinan besar Anda memiliki passion terhadap bisnis yang sedang dijalani dan kena masalah tsb. Begitu Anda menjawab iya, otomatis Anda akan jadi ndhableg, diiringi dengan tekad kuat untuk mengatasi masalah. Itulah motivasi Anda. Tetapi bagi yang ragu-ragu, kemungkinan Anda nggak klik terhadap bisnis yang dijalani. Pun demikian, jangan lantas menutup usaha tersebut. Anda harus memikirkan sisi-sisi lain. Misalkan, jika usaha yang dijalani adalah usaha warisan, apa ya Anda tega menghancurkan jerih payah para founder (orang tua)  hanya karena ketemu masalah? Jika usaha Anda ternyata bisa menghidupi banyak orang (karyawan &amp;amp; keluarganya), apa ya hati Anda tidak trenyuh jika perusahaan ditutup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang cukup aneh, tapi sering terjadi adalah bhw mungkin saja pada awalnya passion Anda tidak pada usaha tsb, tetapi karena pertimbangan faktor-faktor lain, Anda lama2 bisa jadi klik dengan usaha tsb. Ini juga terjadi pada saya kok, khususnya pada percetakan. Bagi yang penasaran, silahkan tanya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Andalah yg akan menentukan bagaimana bisnis Anda ketika menghadapi masalah, karena masalah akan selalu ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-4518880334597481254?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/4518880334597481254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=4518880334597481254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4518880334597481254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4518880334597481254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/05/ndhableg-keras-kepala-is-next-thing.html' title='NDHABLEG (KERAS KEPALA) IS THE NEXT THING....'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-860060749219335769</id><published>2008-05-22T09:58:00.002+07:00</published><updated>2008-05-22T10:04:27.537+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='entrepreneurship'/><title type='text'>NEKAD IS JUST THE BEGINNING ( Bagian 1 dari 2 tulisan )</title><content type='html'>Kita sering mendengar, bahwa untuk memulai suatu usaha itu ada 2 versi. Versi pertama : dihitung2 dahulu, studi kelayakan, survey, analisa macam2 dsb. Setelah itu baru diputuskan : buka usaha atau batal/ditunda. Versi kedua : nekad saja, jalan dulu, mindsetnya adalah "bagaimana nanti", bukan "nanti bagaimana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seperti halnya otak kiri dan otak kanan. Kalo otak kiri adalah ngitung, otak kanan adalah melakukan. Otak kiri adalah berpikir sekuensial, otak kanan berpikir lateral. Otak kiri mengandalkan pola, otak kanan menciptakan pola.&lt;br /&gt;Sampai di sini, hal yg sering kita lihat adalah mulai santernya penggunaan otak kanan disertai dengan "pendiskreditan" otak kiri. Berkesan otak kanan adalah segalanya, otak kiri ga ada gunanya. Terjadi dikotomi (pemilahan) di sini yg bersifat bertolak belakang.&lt;br /&gt;Benarkah demikian .... ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru menemukan pencerahan saat ikut seminar IMA Jateng yg waktu itu tamunya adalah Bapak Sudhamek, CEO Garuda Food. Filosofi beliau adalah beliau tidak mudah percaya hal2 yg bersifat dikotomis mutlak. Dikotomi itu hanya muncul di permukaan. Seandainya kita mengupas permukaan itu dan mencoba mengintip di dalamnya, kita akan menemukan banyak hal yang semula kelihatan bertolak belakang, tapi ternyata masih banyak celah untuk melakukan kompromi. Apalagi yang menciptakan dikotomi itu kita sendiri. Pasti ada jalan untuk menyatukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu beliau ambil contoh : jadi entrepreneur atau profesional? saat ini banyak yang mendewakan entrepreneurship is everything. Tapi beliau mengambil contoh pada dirinya sendiri, bahwa ternyata Pak Sudhamek adalah entrepreneur (karena dia pemilik Garuda Food) sekaligus profesional/karyawan (namanya tercatat sebagai karyawan Garuda Food, yang berarti terikat peraturan kerja secara profesional). Hal inilah juga yang saya lihat terjadi pada komunitas Tangan Di Atas (TDA). Memang TDA isinya para entrepreneur, tapi tidak diharamkan TDB (Tangan Di Bawah = karyawan) jadi anggotanya. Tidak pula diharamkan TDB sekaligus TDA (sekali waktu ada teman yang melempar joke bahwa yang jadi TDA dan TDB sekaligus mending jadi TDS = Tangan Di Samping, bisa ke atas, bisa ke bawah). Saya kira hal ini bisa terbentuk karena misi TDA itu sendiri kan 'bersama menebar rahmat'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dikaitkan hal tersebut dengan topik tulisan ini, maka seharusnyalah kita sudah tidak harus memusingkan bagaimana kita akan membuka/memulai bisnis. Gabungkan saja dua2nya : nekad dan ngitung jalan berbarengan. Saya percaya kita ini mempunyai "radar" dalam hati yang akan menyeimbangkan persentase kenekadan dan perhitungan kita. Selama kita memiliki akal sehat, kita akan bisa "diingatkan" kapan kita terlalu nekad, atau kapan terlalu perhitungan sehingga menghambat langkah bisnis kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya bisnis yg melibatkan kapital gede dengan porsi uang orang lain lebih banyak tertanam di kapital tersebut, akan lebih baik jika diawali dengan beberapa perhitungan sebelum melangkah. Karena bagaimanapun itu uang orang lain kan? Mungkin bisa lain cerita kalo modal itu sebagian besar uang kita sendiri. Tapi tetap kembali pada pribadi masing-masing, jenis risk taker atau moderat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mau memulai bisnis dengan modal nekad ataupun modal perhitungan, itu hanya AWAL MULA. Setelah menapak di dunia bisnis, barulah kita akan teruji seberapa tangguh impian dan kemampuan kita. Tunggu sharingnya di tulisan saya berikutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-860060749219335769?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/860060749219335769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=860060749219335769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/860060749219335769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/860060749219335769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2008/05/nekad-is-just-beginning-bagian-1-dari-2.html' title='NEKAD IS JUST THE BEGINNING ( Bagian 1 dari 2 tulisan )'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-3503633108923481627</id><published>2007-06-22T21:57:00.002+07:00</published><updated>2008-05-22T10:25:04.205+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Rania Tsanina Hayni, 25 Tahun yang Lalu...(Part 2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SDTm3hg_2wI/AAAAAAAAAAU/0JRjG7rjruc/s1600-h/S5000327a.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203037311083731714" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SDTm3hg_2wI/AAAAAAAAAAU/0JRjG7rjruc/s320/S5000327a.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tsani sayang, saat Bapak nulis blog ini, usiamu sudah jalan 5 bulan. Well...tetep masih bayi lah...tapi yang pasti kamu ada perkembangan. Banyak. Bapak inget, pas kamu masih 1-2 bulan pertama...duh...hampir setiap orang bilang "Duuh...mungilnya....". Lha ya iya, kamu kan cuma 2,5 kg dan panjang 45 cm pas lahir. Ketolong sama pipimu saja yg enduth itu shg kelihatan agak berisi, tapi begitu gedong bayinya dibuka...keliatan deh kecilnya.&lt;br /&gt;Ibu sampe stress waktu itu.&lt;br /&gt;Kadang2 nangis2 sendiri&lt;br /&gt;Mbingungi deh pokoknya...!!! (dan ini sifat Ibu yang nurun ke kamu lho Nak !)&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi spt itu tdk bisa dibiarkan, maka dimulailah proses "pengglonggongan bayi", alias minum susumu dikencengin. YEAAAHHH....genjot terus Nak !! Ngenyut (Jawa : minum) terus Nak !! Selain ASI, juga didukung oleh susu formula. Wah berapa kali ganti susu formula tuh untuk bisa naikin berat badanmu. Tiap kaleng harganya 80 ribuan euy....wakss...waks...kalo pas jamanmu baca blog ini sudah berapa duit ya ? Tapi demi "operasi pengglonggongan", ASI dan susu formula hajar teruuusss.....&lt;br /&gt;Teruuuss....&lt;br /&gt;Sampe akhirnya....&lt;br /&gt;Berat badanmu naik !!!&lt;br /&gt;Cihuy !!!&lt;br /&gt;Operation succeeded. Kamu mulai berisi. Mulai menggendut. Bapak Ibu bernafas lega...fyuhhh...Dan kamu mulai bisa dibanggakan (sebenernya sih sudah sejak lahir bisa dibangga2in....). Oh ya...Bapak Ibu dulu juga sering njemur kamu di sinar matahari pagi, karena kata Budhe Ida, kamu rada2 kuning. Alhamdulillah ga sampe kuning bener, kecuali kuning langsat seperti Bapaknya :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu jaman segitu, terutama pas gendong kamu menikmati hangatnya sinar mentari pagi ...alias njemur kamu... Bapak sering merenung apa iya Bapak Ibumu bisa mengasuh kamu dengan baik. Bapak Ibu paham, yang namanya mengasuh terutama adalah memberi contoh yang baik buat kamu. Insya Allah bisa lah ya...kan Bapak Ibumu orang baik2...heheheh. Anyway, bersyukurlah kamu lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang baik2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Bapak Ibu juga paham bahwa dalam proses tumbuh kembangmu nanti, kamu akan ngalamin berbagai kejadian, dan dari situ kamu akan mempelajari banyak hal. Termasuk perasaan-perasaan negatif, seperti : kecewa, terjatuh, marah, sedih, dll. Jujur saja, Bapak Ibu ga tega kalo kamu mengalami itu, tapi poin pentingnya adalah memang kamu harus mengalami pembelajaran yg lengkap, termasuk mengalami hal-hal negatif itu tadi. Dengan mengalami dan bisa mengatasi hal itu, kamu akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Tugas Bapak Ibu adalah menciptakan lingkungan yang bisa membuat kamu menjadi pribadi yang baik dan Islami. Tidak masalah kamu mengalami down, jatuh, sedih, marah, dll. Kamu akan selalu punya tempat untuk pulang, untuk beristirahat, untuk mengadu Nak. Kamu selalu punya keluarga yang menyayangi dan mengasihi kamu. Jangan lupain itu ya Nak, terutama saat kamu nanti mulai mengenal kerasnya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya..Bapak mulai memahami hal ini saat Bapak mulai berbisnis dan sering disupport sama Yang Kung. Yang Kung dan Yang Uti di usia senja saja masih bisa menciptakan "rumah jiwa" buat Bapak, dan dengan semangat itu, Bapak Ibu pingin juga memberikan "rumah jiwa" ke kamu Nak. Someday, jika kamu sudah berkeluarga ya harus seperti itu ya....*masih jauh banget oooiiyyy*...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-3503633108923481627?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/3503633108923481627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=3503633108923481627' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/3503633108923481627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/3503633108923481627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2007/06/rania-tsanina-hayni-25-tahun-yang.html' title='Rania Tsanina Hayni, 25 Tahun yang Lalu...(Part 2)'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/SDTm3hg_2wI/AAAAAAAAAAU/0JRjG7rjruc/s72-c/S5000327a.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-6288134971146354117</id><published>2007-03-05T12:15:00.001+07:00</published><updated>2008-05-22T10:17:45.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Rania Tsanina Hayni, 25 Tahun Lalu...(Dedicated to my first lovely daughter) - Part 1</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/RmP_PQ7AR8I/AAAAAAAAAAM/QmoJIdoQXao/s1600-h/S5000057a.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072178243054880706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/RmP_PQ7AR8I/AAAAAAAAAAM/QmoJIdoQXao/s320/S5000057a.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Anakku sayang, jika kamu bisa baca Blog ini, artinya 25 tahun sudah lewat, makanya Bapak sengaja beri judul spt di atas. Bapak pingin cerita tentang kamu dari sudut pandang Bapak. Bapak nulis ini stlh usiamu 40 hari...ya jelas2 msh bayi lah. Blog ini pun belum tentu ada saat usiamu 25 tahun, tapi dgn adanya Blog ini, orang lain akan bisa menceritakannya kepadamu, jadi saksi hidup bhw Blog ini pernah ada, bilamana Blog ini kelak wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu lahir 22 Januari 2007, hari Minggu pas jam 00.00, jadi masuknya hari Senin ya, biar pas sama nama kamu, Tsanina, meskipun awalnya arti Tsanina bukan hari Senin. Kamu lahir gara2 ketuban Ibu pecah Minggu sore. Wah, panik juga tuh Ibu, tp untung Yang Kung kamu dengan santai bilang, "Ya sudah, sana ke sebelah", maksudnya ke ruang persalinan di RSIA Bahagia (jujur saja Nak, saat Bapak nulis ini, Bapak berharap rumah sakit itu masih ada saat kamu bisa baca Blog ini). Bapak terus bawa Ibu ke ruang bersalin, dan nungguin Ibu. Jelas saja sbg pengalaman pertama, Bapak Ibu ya kuatir jg, tp tetep optimis Yg Di Atas akan memberikan persalinan yg normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum jam 9 mlm, Ibu msh baik2 sj, banyak yg menjenguk...tapi mulai jam 9 ke atas...wah...Ibu sdh mulai kesakitan. Bapak ga tega, tp Bapak sudah komitmen akan nemenin Ibu sampe kamu lahir. Semakin malam, frekuensi kesakitan Ibu semakin singkat, dan tiap kesakitan, Bapak berusaha nenangin Ibu, ngesun keningnya (spt yg sering dilakuin Bapak ke kamu). Sekitar jam 10 mlm, Eyang Kakung dan Eyang Putri Ungaran jenguk, dan nungguin kamu lahir, Nak. Wah, semakin lama, Ibumu spt org stres sendiri, kesakitan bgt keliatannya (katanya sih spt minum Dulcolax, obat pencahar, 5 tablet sekaligus...:D). Sbnrnya sih ga apa2, krn semua hal utk keperluan bersalin sudah ada. Dokternya, Pakdhe Herman, jg sdh tahu kok, cuma dokter itu kan datang pas saat mau ngelahirin. Jd mslhnya adlh melewati waktu dgn rasa sakit akibat kontraksi yg smkn sering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya begitulah, kontraksi semakin sering, Ibu smkn kesakitan, tp untung ada Bapak di samping Ibu (beruntung lho Ibumu!). Mendekati jam 11.30 mlm, kontraksi makin dahsyat, dan...INILAH SAATNYA! Nak, meskipun Bapak ini putranya Yang Kung yg dokter kandungan, tp baru kali ini Bapak lihat langsung dgn mata kepala sendiri perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya. Makanya Rasul dahulu dgn yakin menjawab pertanyaan sahabatnya, bahwa ibulah yg hrs dihormati dahulu, dgn perbandingan 3:1 thdp bapak. Bapak melihat Ibu kesakitan, mengaduh, ampun2 gitu...Kasian ya pasti kasian...tp Bapak tetap tenang, ya krn itu tadi, bidan2 sdh ada, dokternya jg sdh tahu, peralatan oke, dan Ibu juga dlm kondisi sehat. Di sela2 kesakitan ibumu, Ibu sempat tanya mana dokternya....mana dokternya....Saat tiba waktunya manggil Pakdhe Herman, trnyt mlh ga bisa dihubungi....wah jelas Ibu tambah stress lah! Tp akhirnya dateng juga Pakdhe Herman dan langsung memberikan pertolongan. Komentar pertama Pakdhe ke Ibu :&lt;br /&gt;Pakdhe Herman : "Wah, kalo ngejannya gini ya ga bisa nglahirin..."&lt;br /&gt;Ibu : ....... (bingung kok malah komentar dokternya gitu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, mulailah proses persalinan. Di situlah titik klimaks perjuangan Ibu.&lt;br /&gt;Mengejan. Mengendur. Mengejan. Mengendur.&lt;br /&gt;Darah di mana2.&lt;br /&gt;Wow.&lt;br /&gt;Pada satu titik, Pakdhe dan bidan2 menyemangati :&lt;br /&gt;"Ayo, sedikit lagi...SEDIKIT LAGI...INI KEPALANYA SUDAH NONGOL...!!!"&lt;br /&gt;Dan Bapak pun ikut menahan napas saat melihat gundukan keluar dari rahim ibumu. Wah...kepalamu Nak! Saat bahumu mulai keluar, tiba2 saja kamu "meluncur" keluar dgn mudah. Bapak masih menahan napas krn badanmu pucat bgt. Tp itu hanya sebentar, krn bbrp detik kemudian darah mulai mengalir di pembuluh2mu, membuat kulitmu jadi semu merah. Normal. Wkt itu posisimu membelakangi Bapak, dan saat berputar badan, Masya Allah, hati Bapak terharu, trenyuh bgt melihat kamu, puteri pertama Pak Habibi dan Ibu Yani. Komentar pertama Bapak ttg kamu : "wah hidungnya kayak bapaknya...alias pesek!". Itu yg Bapak inget sampe skrg, bersamaan dgn ingetnya Bapak ttg satu fenomena : timbulnya perasaan sayang, hangat, ingin melindungi, yg ingin dicurahkan ke kamu, Nak. Perasaan cinta seorang ayah kepada anaknya. Terlebih lagi, Bapak memang pingin anak pertama cewek. Klop deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stlh itu, para bidan yg ngurusi kamu. Dibersihin, digedhong, dan dikomentarin : "Wah anak perempuan, hidungnya kayak bapaknya". Ga apa deh Nak, gitu2 kamu itu ya kamu : cewek, normal, sehat, lucu.... Alhamdulillah. Bapak Ibu merasa terharu sekali saat kamu didekatkan ke Ibu, dan Bapak cukup heran saat kamu di-adzani, kamu diam, ga nangis....good girl, good girl. Pd saat itu pula, Ibu dijahit oleh Pakdhe Herman, dan tegangan sdh menurun, krn ibu dan anaknya selamat. Alhamdulillah. Bener2 pengalaman baru. Asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rania Tsanina Hayni.&lt;br /&gt;Rania = nama ratu Yordania yg aduhaiiiiii......, melambangkan "ratu wanita"&lt;br /&gt;Tsanina = plesetan dari kata Isnin, bhs arab yg artinya kedua. Kebetulan kamu lahir pada hari Senin&lt;br /&gt;Hayni = singkatan dari Habibi - Yani&lt;br /&gt;Jadi arti namamu adalah : "Ratu wanita kedua di keluarga Habibi - Yani", extended versionnya : "Ratu wanita kedua di keluarga Habibi-Yani yg lahir hari Senin". Biasanya orang2 tanya, lha terus ratu pertama siapa? Kan ini baru puteri pertama. Simpel. Ratu pertama ya si mboknya. Yg menebak dgn bener adlh Budhe Fifin lho Nak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara part 1 sampe sini dulu ya...ntar lanjut ke part 2. Bapak harus pindah file2 fotomu pas msh jabang bayi nih. Oh ya, Bapak nulis ini pas lagi kena ujian : laptop rusak, mainboard harus ganti, biaya sktr 3 jt lebih. Mau ganti juga nanggung, mending beli baru, tapi beli baru juga ga ada anggaran (bhs halus dari "lagi kere"), yah...ujian juga nih Nak. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-6288134971146354117?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/6288134971146354117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=6288134971146354117' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/6288134971146354117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/6288134971146354117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2007/03/rania-tsanina-hayni-25-tahun.html' title='Rania Tsanina Hayni, 25 Tahun Lalu...(Dedicated to my first lovely daughter) - Part 1'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PTWfPrbYYDI/RmP_PQ7AR8I/AAAAAAAAAAM/QmoJIdoQXao/s72-c/S5000057a.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3951205877832078473.post-4434643013250329428</id><published>2007-02-21T10:08:00.000+07:00</published><updated>2007-02-21T10:55:25.919+07:00</updated><title type='text'>Karena Hidup Itu Berwarna</title><content type='html'>Jujur saja, ini postingan pertama gw. Canggih juga nih web-based text editornya. Sebenernya sudah pingin nge-blog dari dulu....tapi apa daya kesibukan berdatangan sana-sini plus males nulis2 (unsur terakhir ini lebih dominan :) ). Baru akhir-akhir ini panggilan jiwa semakin mendesak untuk sekedar berbagi cerita dan pengalaman di blog gw. Mungkin someday ada yg akan membukukan blog gw ini :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, tidak ada yang spesial pada pengalaman hidup gw, everybody's experience lah. But...gw percaya, seperti halnya tidak ada 2 sidik jari yang sama persis....begitu pula pengalaman setiap orang. Biarpun mungkin mirip2, tapi akan selalu ada titik2 perbedaan di antaranya. Karena itulah hidup jadi berwarna...'tul nggak? Ya gitu deh...postingan ini hanya untuk mengawali saja, krn gw lagi sibuk mikir taktik keuangan perusahaan nih...puyeng...cashflow terancam..:(&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3951205877832078473-4434643013250329428?l=ndhuts.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ndhuts.blogspot.com/feeds/4434643013250329428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3951205877832078473&amp;postID=4434643013250329428' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4434643013250329428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3951205877832078473/posts/default/4434643013250329428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ndhuts.blogspot.com/2007/02/karena-hidup-itu-berwarna.html' title='Karena Hidup Itu Berwarna'/><author><name>Ndhuts a.k.a HBB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09689985958625411098</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_PTWfPrbYYDI/SHHZNJdMLrI/AAAAAAAAABU/xycyU1E7v70/S220/DSCN0875.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
