Saturday, November 22, 2008

Anak Gila Berbisnis Penerbitan Buku

Pada suatu Sabtu, sambil menunggu jam gajian (membayarkan gaji mingguan karyawan saya maksudnya), saya mengirimkan email berisi judul-judul buku terbitan saya ke seorang pembaca yang me-request hal tersebut. Pas ditulis, kok ternyata ada cukup banyak juga (menurut ukuran saya lho!) judul-judul buku yang telah diterbitkan. Padahal orang yang me-request itu hanya minta judul-judul buku dengan tema hacking atau sejenisnya. Kalo pas awal-awal dulu, saat-saat judul yang diterbitkan masih sedikit,  saya bisa ingat persis judul-judulnya, jumlah halaman, nomer ISBN-nya, bahkan nama tukang sayur penulis bukunya. Yang terakhir enggak lah. Ibaratnya sambil merem-melek nikmat (nah lho...ini lagi ngapain ya?) pun saya bisa tahu persis buku-buku saya apa saja.
Sekarang, saat nulis email yang saya maksud di atas, saya harus baca daftar apa saja buku yang telah terbit. Soalnya saya sendiri agak lupa judulnya apa saja. Dengan kapasitas otak yang (harapannya) lebih dari sekedar kacang polong, tentu saya tidak bisa mengingat banyak hal.

Anyway...kalo melakukan kilas balik, saya masih heran dengan keberanian saya buka bisnis penerbitan. Secara ini di Semarang, gitu lho! Kalo misal ini di Yogya, masih bisa dimaklumi. Yogya kan Kota Pelajar. Tapi ini Semarang, maaann....Semarangg !!! *menghela napas*. Sudah banyak isu yang saya dengar, bahwa Semarang ini ditakuti oleh pemasar-pemasar produk. Alias di Semarang susah jualan. Akibatnya? Tuh..sering kan kalo misalnya ada acara-acara gede, acara musik misalnya, Semarang sering dilewati. Paling dekat ya Yogya.

Fakta pun berbicara bahwa  produk  intelektual seperti buku, perputarannya di Semarang tidak sedahsyat di kota lain yang lebih maju dan terbuka wawasannya. Angka-angka penjualan buku saya menyatakan kesimpulan itu.  Itu saya akui, karena saya pun juga orang asli Semarang. Lantas...mengapa terus saya yang orang Semarang, domisili di Semarang, malah berbisnis penerbitan buku? Gila apa?
Ya memang.
Saya akui, saya gila, kenthir (in Javanese term), sedheng (in more crude Javanese term).

Apakah saya punya background penerbitan ? Tidak
Apakah saya kehilangan akal? Nah, ini jelas TIDAK. Mari saya jelaskan :

Saya memutuskan berbisnis penerbitan karena pasar buku di Indonesia masih sangat luas. Fakta menunjukkan bahwa 50% omzet bisnis buku nasional masih berpusat di Jakarta. Oke, mulai kelihatan kan arahnya? Jadi saya memang di Semarang, tapi pasar saya kebanyakan di Jakarta dan sekitarnya.

Alasan kedua adalah buku dengan tema tertentu biasanya masih eksklusif. Artinya, tidak banyak judul dengan tema itu. Praktiknya, saya menerbitkan buku tema-tema IT di bawah label Neomedia. Saat ini, penerbit buku IT di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari. Paling banyak adalah buku anak-anak dan buku agama. Tobat deh itu. Ngrumpyuk, crowded banget. Jadi di sini saya mencoba membidik pasar IT yang masih cukup lowong.

Alasan ketiga, margin buku itu cukup tinggi. Ndak percaya? Oke, saya beberkan ya. Kebetulan saya berbisnis di bidang percetakan juga. Dari pengalaman, kalkulasi buku sekitar 120-an halaman, oplah 1000 eksemplar, jatuhnya paling-paling sekitar Rp. 5000-an. Sekarang kalo Anda melihat buku dengan spesifikasi itu di toko buku, berapa harganya? Paling muraaaahhh....banget sekitar 20 ribuan deh. Kalo yang lebih mahal? Banyaakk....
Mengapa bisa demikian? Itu karena yang dijual adalah isi buku, bukan kertasnya. Isi buku adalah produk pengetahuan seseorang yang layak dihargai mahal. Jadi, dengan modal 5000, bisa dapat duit lagi 10.000 setelah dikurangi diskon untuk distributor/toko buku.

Jadi kesimpulannya, saya mungkin gila ya berbisnis penerbitan, tapi tentu saja saya tidak segila itu hingga saya masih bisa nulis blog ini.
Semoga mencerahkan :)

Thursday, November 6, 2008

Through Bad Times, Through Good Times

Sudah lama nggak nge-blog nih, semenjak sebelum puasa hingga sekarang Syawal lewat. Banyak hal terjadi pada saat itu. Pengen juga sih mengurai kejadian-kejadian itu satu persatu. Dimulai dari sharing tentang bisnis saya ya.

In shorter version, bisnis saya lagi masa-masa sulit (lagi).

Karena blog ini konsumsi publik, maka tidak semua hal bisa saya ceritakan mengenai "urusan dapur" bisnis. Rahasia perusahaan :) Yang jelas, saya mendefinisikan masa-masa sulit karena pertama, cashflow sedang megap-megap. Yang kedua, harga-harga bahan baku naik cukup banyak. Yang ketiga, kok ya tahun ini ordernya nggak semoncer tahun-tahun kemarin.....(i missed those cash-abundant years). Yang keempat, ada banyak masalah internal yang belum terbereskan sehingga ikut membebani masalah baru yang muncul.

Buseeet.....banyak banget yah penyebabnya ?

Untuk bisnis percetakan, pasca Lebaran ini saya terpaksa harus mem-PHK 3 karyawan sekaligus, dan 2 di antaranya adalah karyawan lama, dan itu artinya.....PESANGON BERLIPAT!! Setelah saya cukup shock pada Lebaran hari ke-2 bahwa sisa saldo operasional perusahaan saya tinggal ratusan ribu (in Rupiah, of course :D), saya mendapati kejutan berikutnya bahwa masih banyak tagihan yang jatuh tempo pada bulan Oktober ini. Juga pada akhirnya saat saya memutuskan merampingkan perusahaan, saya tahu bahwa saya benar-benar harus jadi makhluk haus-cash. Belum lagi untuk gaji karyawan....belum lagi gaji diri sendiri untuk menafkahi anak istri.....

Sudah cukupkah sampai di situ ?

Seandainya saja piutang-piutang bisa cair, mungkin saya tidak akan megap-megap seperti ikan keluar dari kolam. Masalahnya adalah....you know lah....piutang yang diharapkan belum bisa cair. Grrreeeaaatttt. Selain itu, untuk mengelola cash-flow, terpaksa cicilan-cicilan ke bank harus saya atur. Beberapa bank sudah berhasil saya nego untuk rescheduling pembayaran utang. Beberapa yang lain belum. Dan saya merasa sebeelll banget terhadap bank untuk urusan ini. Kalau pas mereka butuh, ya ampuuun....ngejar-ngejar terus, dan saat kita sebagai nasabah kesulitan, kok kayaknya malah mereka tidak mempermudah kita ya? Yang ada malah dikejaaarr terus untuk bayar cicilan. Ya tidak salah sih, tapi bagaimanapun juga saya kan nasabah mereka, dan i'm in trouble yang harusnya mereka care sedikit lah.
Bagi bank-bank yang sudah mau mencarikan solusi buat saya, terima kasih. Dan buat bank-bank yang tahunya cuma "pokoknya-bank-dapat-duit-persetan-nasabah-harus-jungkir-balik", lihat saja ntar...once i've settled my debts, ke laut aja deh kalian!

Sekarang ngomongin tentang bisnis penerbitan ya. Alhamdulillah sebagian buku Neomedia mulai diretur oleh distributor kami yang bermasalah. Dengan demikian buku-buku itu bisa diputar oleh distributor baru. Tapiii belum semua masalah beres dengan distributor lama. Masih ada piutang yang besar di distributor itu. Akibatnya untuk produksi judul-judul baru, Neomedia agak seret nih. 

Hiiiihhh......
Masalah kok ya ga beres-beres sihhhh......

Walaupun demikian, saya hanya bisa tetep maju, keep on going, banzai banzai!! Mengapa? After all, jika saya berhenti pada titik ini, maka saya akan menyia-nyiakan segala yang telah saya perjuangkan. Jadi? Ya harus tetep maju, meskipun dulu maju dengan kecepatan 100 km/jam, sekarang mungkin turun jadi 30 km/jam. 
Tidak apa.
Harus terus maju.
Sudah menjadi sunnatullah/hukum alam bahwa siapa menabur angin, akan menuai badai. Dan saya percaya hal itu.

Friday, August 15, 2008

Rumus Sederhana Blue Ocean

Bagi kalangan bisnis, tentu sudah pernah mendengar istilah Blue Ocean. Ya, samudera biru. Ada bukunya, yang nulis,....siapa ya, saya lupa, pokoknya 2 orang pakar lah. Saya sendiri belum baca (koreksi : males), karena belum sempat baca bukunya sudah sering membaca/mendengar tentang apa itu konsep Blue Ocean.

Pada dasarnya, konsep Blue Ocean adalah bagaimana caranya supaya produk bisa memiliki nilai diferensiasi tinggi, kalau perlu di dunia ini cuma ada satu produk tersebut. Pesaingnya sedikit, syukur-syukur tidak ada. Dengan itu, harga bisa dibandrol tinggi. Berlawanan dengan Red Ocean yang digambarkan sebagai bisnis yang pesaingnya sudah banyak, sehingga senjata utama adalah banting-bantingan harga. Margin makin tipis. Hancur-hancuran deh. Konon, bisnis basis komoditas (sembako, material, komputer) rentan masuk ke Red Ocean. Tapi bukan berarti Red Ocean adalah harga mati. Masih banyak bisnis di Red Ocean yang masih hidup dan berkembang.

Nah, sekarang, apakah Blue Ocean itu suatu utopia semata? Alias hal yang ajaib untuk bisa diraih? Kalau bisa diraih, bagaimana caranya? Berikut ini, saya mencoba men-share pemikiran saya tentang bagaimana supaya bisnis Anda bisa di area Blue Ocean, kalaupun tidak persis sama, ya minimal nyerempet-nyerempet...:)

Jawaban secara singkat (versi saya) : milikilah 2 bisnis. Tapi bukan sembarangan bisnis lho. Apapun produknya, buatlah bisnis yang tujuannya langsung ke konsumen. Istilahnya B2C. Artinya produk bisnis Anda langsung dinikmati konsumen umum. Karena yang ditarget adalah masyarakat umum, berhati-hatilah melakukan segmentasi pasar Anda. Contoh bisnis B2C ini jelas banyaaaak : counter makanan, counter baju, counter warung, toko kelontong, warnet, dll.

Pada kasus saya, bisnis B2C saya adalah penerbitan buku. Saya melempar buku-buku terbitan saya ke toko-toko buku seperti Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung, dll. Saya melemparnya lewat distributor dengan sistem konsinyasi. Meskipun lewat distributor, saya anggap ini adalah bisnis B2C karena sasarannya jelas : konsumen umum alias end user.

Oke, setelah memiliki bisnis B2C, milikilah satu bisnis lagi yang sifatnya B2B, yaitu bisnis yang konsumennya adalah sektor bisnis lain, bukan konsumen umum. Tapi jangan lupa, bisnis B2B yang ini haruslah yang SINKRON dengan bisnis B2C Anda. Percuma saja kalau tidak sinkron. Jadikan bisnis B2B ini sebagai produsen produk-produk bisnis B2C Anda. Sebagai contoh : jika bisnis B2C berupa counter baju, maka bisnis B2B-nya adalah jasa produksi/jahit baju, jika bisnis B2C berupa counter makanan, maka bisnis B2B-nya adalah pabrik yang memproduksi bahan baku makanan. Jika bisnis B2C berupa warnet, bisnis B2B-nya adalah ISP, dll. Tentu saja Anda juga bisa mencari pelanggan lain untuk bisnis B2B ini, bahkan disarankan untuk itu.

Sebagian besar franchisor mengadopsi sistem ini. Mereka (franchisor) berada pada sisi B2B, sedangkan B2C adalah pihak terwaralaba (franchisee).


Poin penting lagi : PISAHKAN MANAJEMEN bisnis B2B dengan B2C, meskipun keduanya sama-sama milik Anda. Kalau tidak, akan sama saja bohong. Organisasi bisnis Anda akan jadi lebih tambun dan berat. Anda akan repot sendiri.


Pada kasus saya, bisnis B2B saya adalah bisnis percetakan, dan B2C-nya adalah penerbitan. Percetakan saya namanya Bahagia Printing (BP), penerbitan saya namanya Neomedia (NEO). Bisa dikatakan, BP adalah exclusive partner NEO, dalam implementasinya, NEO mencetakkan buku-bukunya di BP. Bayar? TENTU SAJA. Manajeman BP dan NEO sangat-sangat terpisah, bahkan keduanya memiliki badan hukum yang berbeda.

Cita-cita saya adalah membesarkan NEO sehingga order cetak NEO ke BP bisa memenuhi kapasitas produksi BP. Artinya, tanpa harus repot-repot bersaing mencari pelanggan, BP bisa profitable cukup dari order cetak buku-buku NEO. Apalagi kalau ditambah dari pelanggan lain. Sebaliknya, BP pun juga harus memberikan kemudahan bagi NEO, misalnya saja dari termin pembayaran, layanan pelanggan, dll. Dengan kemudahan termin pembayaran, NEO bisa "rajin" menggempur pasar dengan judul-judul baru sehingga brand dan daya saingnya semakin terkerek. Karena dua bisnis ini milik saya, tidak mungkin saya menggantinya dengan yang lain. Misalnya saja, NEO mencetak di percetakan lain....wah jangan sampai deh! Dengan kata lain, BP jadi seperti tanpa pesaing dalam memperoleh order cetak buku dari NEO. Di sisi lain, NEO juga tidak perlu bingung urusan cetak, cukup serahkan ke BP saja. Inilah yang saya maksud Blue Ocean versi saya.


Ini juga bukan berarti BP terus leha-leha, karena BP juga harus menerima order dari pelanggan lain dengan tujuan "mengingatkan dunia luar" bahwa BP masih tetap eksis.


Nah, dengan "konfigurasi" seperti itu, diharapkan akan tercipta sinergi bisnis-bisnis Anda. Akan tercipta Blue Ocean di antara bisnis-bisnis Anda. Sekarang, apakah semudah itu menciptakannya? Jawaban saya : TIDAK. Diperlukan "otot dan otak bisnis" yang kuat. Nevertheless, mudah-mudahan tulisan saya ini bisa memberikan inspirasi.

Biarpun Tidak Berdasi, Asal Mobilnya Mercy...


Kata-kata dari judul di atas itulah yang saya sampaikan ke bos saya waktu kerja di PT. Praweda Ciptakarsa Informatika. Bos saya waktu itu, Mas Arief Debyatman, manggut-manggut memahami.

Ya, waktu itu saya berbincang-bincang santai dengan Mas Arief, tentang impian saya menjadi pengusaha. Sedikit mengupas masa lalu, selepas saya lulus dari IPB jurusan Ilmu Komputer tahun 2000, saya sudah diterima di beberapa perusahaan IT di Jakarta (Alhamdulillah). Dari beberapa perusahaan yang menerima, saya memutuskan untuk mengambil tawaran di PT.Praweda saja, karena 2 alasan : Pertama, dulu saya praktik lapang di situ, dan kedua, lokasi kantor di Praweda ada di Jl. Slipi, sehingga BEBAS dari 3 IN 1....dan inilah alasan utama saya! Saya mikir, masa sih demi kerja harus rela masuk area 3 in 1...ribet banget ah kalo pas pake mobil....(Seorang teman pernah tertawa habis ketika saya ceritakan alasan kedua ini).

Jadilah saya berkarier di Praweda selama beberapa tahun. Dikomandani oleh Mas Arief, saya memberikan all the best ke Praweda. Sebenarnya Mas Arief ini adalah teman sekolah di Semarang dan kuliah kakak saya di ITB dulu, dan Mas Arief ini orang Semarang juga! Terakhir bertemu Mas Arief sebelum di Praweda adalah ketika saya masih SD, waktu itu Mas Arief "diangkut" kakak saya ke rumah dan diperkenalkan ke saya sebagai "Mas BATMAN" (karena last namenya adalah 'deByATMAN'.....sungguh garing humor kakak saya itu).

Selain itu, ada pula sekretaris Praweda yang namanya Mbak Ayu, dan dia itu adalah adik kelas kakak saya pas SMP yang temannya Mas Arief itu, dan otomatis adalah adik kelasnya Mas Arief juga! Woww...dunia yang sempit...sudah merantau ke tanah Jakarta, masih juga ketemu orang-orang sekampung, masih satu perusahaan lagi!

Saya sering curhat ke Mas Arief tentang berbagai hal. Salah satunya adalah angan-angan saya untuk bisa punya usaha....ya gara-gara terprovokasi oleh sebuah buku pengusaha sukses. Hingga satu kata tercetuslah kalimat saya : "Jadi pengusaha kayaknya enak ya....biarpun tidak berdasi, tapi yang penting mobilnya Mercy....". Setelah itu saya tidak mengingat kalimat itu lagi hingga satu ketika saya curhat ke Mas Arief tentang kebimbangan saya antara mau resign dari Praweda untuk memulai bisnis, atau masih lanjut dulu kerja sebagai profesional.

Ternyata terjadi satu hal yang tidak diduga. Suatu hari, saya terima email dari Mas Arief. Sempat heran juga, lha masih satu bagian kok email-emailan segala. Dan...pakai bahasa Inggris lagi! Ternyata di email itu, Mas Arief mengutip kata-kata saya di atas. Kalo di-Inggriskan menjadi 'wear no tie, but ride a Mercy'. Ada kalimat terusan setelah itu yang tidak bisa saya lupakan. Begini nih kurang lebih (menurut ingatan saya) :

Bie, you said about 'Wear no tie, but ride a Mercy'. I believe that your successful future is there, and i have a good feeling that you should pull your future from there to here.

Terus terang saya merasa terharu atas perhatian bos saya. Bagian yang menyarankan saya untuk "menarik masa depan" ke "masa kini" itulah yang membulatkan tekad saya untuk resign dari Praweda dan memulai bisnis saya. Artinya, saya tidak boleh ragu, jika ingin memulai bisnis, mulailah sekarang. Kira-kira itu pesan yang saya tangkap dari Mas Arief.

Setelah itu saya ke ruangan bos, dan berkata : "Mas, caramu ngusir saya secara halus berhasil. Saya jadi yakin dengan rencana saya". Mas Arief cuma tertawa.

And so be it.....Sekarang inilah saya, mantan jongos IT yang kini merentas "karier" sebagai pengusaha. Long way to go ahead....

Dalam kesempatan ini, saya mau mengucapkan terima kasih untuk Mas Arief. Dari bapak inilah saya belajar satu bentuk leadership. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, dengan segala kebenaran dan kesalahan yang pernah terjadi, you earned my respect. Thanks a lot, ex-boss !!